USHULUDIN
(Prinsip Akidah Islam)


Islam berdiri diatas lima prinsip keyakinan agama yang biasa disebut Ushuludin, yang terdiri dari(*):
1. Tauhid
2. Keadilan
3. Kenabian
4. Imamah
5. Maad (Kehidupan abadi manusia setelah kematian)


* Agama didefinisikan sebagai ajaran dan jalan hidup manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat

::.

1. TAUHID

::

Sifat Jamal dan Kamal Tuhan

::

Sifat Jalal Tuhan

::.

2. KEADILAN

::.

3. KENABIAN

::

Pemandu

::

Siapa dan Bagaimana Mengenal Nabi?

::

Tingkatan Para Nabi

::

Nabi Muhammad Saw

::

Orang Yang Pertama Masuk Islam

::

Hijrah Ke Madinah

::

Pemimpin Dunia dan Akhirat

::

Haji Wada dan Peristiwa Setelahnya

::

Al-Quran Sebagai Mu’jizat Yang Kekal

::

Ketinggian dan Kefasihan Bahasa al-Quran

::

Al-Quran Tidak Pernah Terdistorsi

::

Bacaan dan Hafalan Al-Quran

::

Faktor Keterjagaan Al-Quran

::.

4. IMAMAH

::

Urgensi Keberadaan Imam

::

Siapa yang Berhak Menunjuk Imam

::

Masalah yang Penting

::

Peristiwa Ghadir Khum

::

Imamah: Pertama dan Terakhir Perintah Wahyu

::

Pengganti dan Penerus Nabi Muhammad Saw

::

Syiah: Nama dari Langit

::

Ahlul  Bait dan Keluarga Wahyu

::

Putri Rasul

::

Imam Pertama

::

Imam Ke Dua

::

Imam Ke Tiga

::

Imam Ke Empat

::

Imam Ke Lima

::

Imam Ke Enam

::

Imam Ke Tujuh

::

Imam Ke Delapan

::

Imam Ke Sembilan

::

Imam Ke Sepuluh

::

Imam Ke Sebelas

::

Imam Ke Dua belas

::.

5. MAAD

::

Barzah

::

Kiamat

 

 

1. TAUHID

Tauhid merupakan pondasi pandangan dunia Islam. Tauhid adalah mengenal Tuhan dengan pandangan yang jauh dari segala dongeng, terlepas dari segala pencemaran dan kelemahan berfikir. Keajaiban alam merupakan bukti kebenaran adanya pencipta yang esa, maha mengetahui serta maha kuasa. Ringkasnya, tauhid adalah ketika manusia mengetahui bahwa alam semesta terbentuk dari tiada menjadi ada. Maka, alam diciptakan oleh sang maha pencipta. Dialah yang mengatur semua makhluk, memberikan rizki, hidup, mati, selamat, sakit dan sebagainya.
Seluruh ciptaan dari atom yang paling kecil sampai planet yang paling besar dengan keteraturan yang meliputinya, berdasarkan prinsip akal menjadi argumen serta bukti adanya pencipta yang maha bijak, maha mengetahui serta maha kuasa sebagaimana hal ini disinggung dalam al-Quran sebagai prinsip aksiomatis akal.
Semua ini merupakan bukti keagungan serta kebesaran Tuhan yang dengan bersandar pada hukum akal dan fitrah, kita meyakini dan beribadah, memohon pertolongan serta bertawakal hanya kepada-Nya.

Sifat Jamal dan Kamal Tuhan
Tuhan yang esa memiliki berbagai sifat Jamal (indah) dan Kamal (sempurna), antara lain:
1) Mengetahui
Tuhan mengetahui seluruh penciptaannya dari yang kecil hingga yang besar di manapun berada, bahkan apa yang tersembunyi dalam hati manusia sekalipun.
2) Berkuasa
Tuhan berkuasa atas segala sesuatu, misalnya: mencipta, memberikan rizki, mematikan, menghidupkan serta kekuasaan lainnya yang tak tertandingi. Dia menciptakan semuanya.
3) Hidup
Dalam dunia ini ada kehidupan. Maka mustahil, sesuatu yang pada dirinya memiliki unsur hidup, menjadi sumber kehidupan. Lebih dari itu, ilmu dan kuasa Tuhan merupakan kensicayaan hidup. Karena kekuasaan tanpa kehidupan tidak mungkin terjadi.
4) Berkehendak
Tujuan pembuktian dari sifat berkehendak Tuhan adalah sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa pekerjaan Tuhan bukan karena terpaksa (di luar kesadaran), seperti bunga yang di luar kesadarannya memberikan aroma harum.
5) Tuhan melihat segala sesuatu serta mendengar segala sesuatu meskipun sangat pelan.
6) Azali (Kidam)
Allah selamanya ada, telah ada sebelum segala sesuatu dan akan terus ada. Karena Allah merupakan pencipta semesta alam ini. Maka, segala sesuatu senantiasa membutuhkan-Nya. Namun Allah Swt tidak membutuhkan yang lain.
7) Berbicara
Jika Allah menghendaki, bisa berbicara dengan makhluknya yang ikhlas dan suci di antaranya dengan para Nabi dan para malaikat.
8) Benar
Apa yang difirmankan Allah Swt benar dan tidak pernah ada kebohongan sedikitpun.
Selain berbagai sifat diatas, Allah bersifat menciptakan, memberi rezeki, maha pengasih, maha penyayang serta beragam sifat indah dan sempurna lainnya.

Sifat Jalal Tuhan
Tuhan sempurna dari segala kekurangan. Artinya, Allah Swt sempurna dari segala kecacatan, kekurangan dan ketiadaan. Keberadaan Allah bukanlah materi seperti manusia yang memerlukan jasmani maupun kumpulan berbagai unsur yang berbeda. Selain itu Allah tidak bisa dilihat dengan indera, baik di dunia maupun di akhirat.
Allah bukan materi yang bisa berubah. Oleh karena itu, tidak mengandung unsur-unsur materi. Maka Allah tidak pernah mengalami sakit, lapar, tidur, tua maupun pikun.
Sifat Allah yang maha esa adalah dzat-Nya. Allah Swt, dari berbagai segi tidak memerlukan sesuatupun. Berbeda dengan manusia, Allah tidak memerlukan orang lain, harta, dan seluruh keperluan lainnya.

 

2. KEADILAN

Allah Swt berlaku adil terhadap seluruh makhluknya, tanpa membedakan sedikitpun setiap hak masing-masing.
Secara umum sistem di alam ini berlandaskan pada keadilan, bukan persamaan. Dalam keadilan, keutamaan menjadi syarat. Sebagaimana keadilan dalam kelas, ditunjukan dengan memberikan nilai yang sesuai dengan kerja keras dan pemahaman pelajar, bukan memberikan nilai seragam terhadap semua pelajar.
Pada prinsipnya ketidakadilan adalah tidak terpenuhinya hak seseorang. Di alam raya ini, terjadi beragam perbedaan seperti kualitas penciptaan dan perbedaan nasib. Hal itu seringkali dipandang sebagai ketidakadilan. Segala ketidakadilan merupakan kazaliman yang disebabkan kebodohan dan ketidakmampuan. Namun Allah Swt suci dari semua kekurangan tersebut.
Allah maha mengetahui dan selamanya tidak pernah melakukan sesuatu yang tanpa kemaslahatan. Seringkali sebagian dari kita, tidak melihat sesuatu berguna dan tanpa kebaikan sedikitpun. hal ini, disebabkan keterbatasan pemikiran manusia. Sebagai misal, resep dokter berisi berbagai obat yang memiliki kebaikan untuk pesakit. Namun, kita seringkali tidak mengetahui kebaikan dari obat tersebut.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Musa as memohon pada Allah Swt, agar dijelaskan tentang beberapa keputusan Allah Swt yang terlihat dari luar tidak sesuai. Kemudian, turunlah wahyu padanya untuk mengarungi gurun menuju mata air dan menyaksikan peristiwa yang akan terjadi.
Nabi Musa as pergi menuju mata air itu dan melihat laki-laki penunggang kuda mendatangi tempat tersebut. Setelah beberapa saat istirahat, kemudian ia meletakan sekantung uang di sekitar lokasi itu, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Tidak lama berselang, seorang anak kecil datang dan mengambil uang tersebut, lantas pergi. Kemudian, datang seorang kakek buta menuju mata air untuk mengambil wudhu. Pada saat itu, datang laki-laki penunggang kuda hendak mengambil uang dalam kantung yang diletakkan di sana. Keduanya terlibat pertikaian dan akhirnya kakek buta itupun dibunuh.
Melihat kejadian tersebut, Nabi Musa as heran dipenuhi perasan gundah. Kemudian wahyu turun kepadanya:”Wahai Musa, janganlah gusar. Lelaki penunggang kuda itu mencuri harta orang tua anak kecil tersebut dan sekarang kami mengembalikan uang anak kecil itu. Adapun kakek buta, dia telah membunuh orang tua penunggang kuda dan sekarang menemui balasannya.
Inilah sebagian dari contoh keadilan Allah Swt di dunia ini. Tetapi, manifestasi keadilan Allah untuk semua, setelah memasuki alam akhirat kelak.

 

3. KENABIAN

Sebelum melangkah memasuki pembahasan ini, kiranya penting untuk menjelaskan apa filosofi penciptaan manusia? Benarkah manusia hanya terdiri dari unsur materi dan diciptakan untuk sekedar bersenang-senang ? Secara umum, adakah tujuan dari penciptaan alam ini? Apakah manusia yang memiliki unsur materi, juga memiliki unsur spiritual yang selalu mengalami penyempurnaan sebagaimana materi?

Dalam teks Islam (Quran dan hadis) dijelaskan berbagai tujuan penciptaan manusia. Benang merah dari semua itu, tercapainya kesempurnaan manusia dalam naungan pendidikan kemanusiaan. “Kami tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”[1]

Pada hakikatnya, penghambaan merupakan pembinaan dan penyempurnaan manusia. Setiap Ibadah berperan pada bentuk pendidikan serta perkembangan manusia. Ujian Tuhan pun bertolak dari sini, sebagaimana disinggung dalam al-Quran, “Tuhan yang menciptakan hidup dan mati untuk menguji kalian, siapa yang lebih baik”[2] Di tempat lain al-Quran menuturkan hal yang senada,” Dialah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi. Sebagian dari kalian lebih tinggi tingkatnya dari yang lain, hingga kami menguji kalian terhadap apa yang telah  diberikan...”  [3]

Point yang kiranya perlu mendapat perhatian, bahwa ujian Tuhan bukanlah bersumber dari ketidaktahuan-Nya atas hasil perbuatan manusia. Tetapi, ujian merupakan faktor yang berpengaruh dalam membangkitkan potensi manusia yang tersembunyi. Sekali lagi, ujian bertujuan untuk mengaktifkan kekuatan tersembunyi dan potensi dasar manusia. Karena ujian merupakan perantara yang mengantarkan manusia untuk memahami posisi pahala dan siksa. Pada dasarnya, semua itu untuk mengadili segala yang dilakukan dalam menempuh ujian.

Ringkasannya, manusia memperoleh kesempurnaan sejati melalui jalan pengetahuan dan amal. Kesinambungan jalan ini, mengharuskan adanya pemandu yang terus-menerus.

 

Pemandu

Cukupkah pengetahuan manusia sampai kepada kesempurnaan hanya melalui akal? Dapatkah dengannya manusia memisahkan kebaikan serta keburukan? Jelas saja jawabannya negatif. Karena akal dengan sendirinya tidak dapat secara sempurna menjadi pemandu. Karena akal juga memerlukan pembinaan dan tak jarang ia tercemar saat berada di bawah pengaruh situasi dan kondisi yang rusak. Amirul Mukminin Ali as menjelaskan bahwa salah satu tujuan kenabian adalah membimbing akal. Beliau bersabda:“Akal yang terlupakan dan tersembunyi menjadi terbuka dan aktif”.

Apakah undang-undang serta ideologi hasil karya manusia cukup untuk memberikan keselamatan bagi individu dan masyarakat? Bertahun-tahun para ilmuan berusaha menyuguhkan berbagai pandangan untuk keselamatan manusia. Tak jarang terjadi pertikaian keras di antara mereka. Hal tersebut berujung pada munculnya pandangan berseberangan antara satu dengan yang lainnya.

Dengan adanya keterbatasan akal manusia serta ketidakmampuannya dalam menguak rahasia kebahagiaan manusia dari berbagai sisi kehidupan. Maka, hasil yang akan diperoleh adalah adanya ketidakpercayaan pada berbagai bentuk pemikiran serta teori terbatas manusia. Lebih dari itu, nampaknya tidak ada ruang untuk menerapkan undang-undang tersebut.

Kondisi demikian, berbeda dangan ajaran langit yang dibawa para Nabi. Karena bersandar pada pengetahuan yang tanpa awal dan akhir serta lebih memahami berbagai titik kerancuan dari berbagai sudut pandang serta mempertimbangkan karakteristik manusia. Maka, tidak akan ditemui kemungkinan salah di dalamnya. Dengan demikian, jelaslah urgensi kenabian serta keberlangsungan risalah mereka.

 

Siapa dan Bagaimana Mengenal Nabi?

Nabi adalah seorang manusia yang tanpa bantuan manusia lain, memiliki potensi untuk menyampaikan hukum-hukum Tuhan melalui wahyu, hubungan dengan alam semesta serta ilmu yang tak terbatas.

Jalan untuk mengenal para Nabi sebenarnya, dari para pembohong  yang hanya mengaku sebagai  Nabi diantaranya:

1) Mu’jizat berupa kekuatan melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa.

2) Mengumpulkan berbagai bukti diantaranya dengan jalan: menganalisis kehidupan terdahulu mereka sebelum diutus menjadi Nabi dari sisi akhlak, psikologi serta sikap dalam bermasyarakat.

Selain itu, meneliti kandungan seruan mereka dari sisi kesesuian dengan akal, bangunan logika dan kontribusi mereka dalam kehidupan bermasyarakat serta beberapa individu yang berada dalam bimbingan mereka.

3) Kabar gembira dan janji dari Nabi sebelumnya, yang sah kenabiannya melalui berbagai pembuktian.

 

Tingkatan Para Nabi

Tingkatan para Nabi terbagi menjadi dua bagian:

1. Bukan Ulul ‘Azmi

Para Nabi yang ruang lingkup seruan tabligh mereka terbatas dan tidak memiliki kitab serta ajaran baru.

2. Ulul ‘Azmi

Para Nabi yang memiliki agama, ajaran serta kitab langit. Ruang lingkup seruan mereka lebih luas. Pada pembagian ini, terdapat lima sosok besar. Masing-masing dari mereka menempati bagian khusus dalam sejarah yang bertugas untuk memberikan petunjuk pada manusia serta menyampaikan firman-firman Tuhan kepada masyarakat dari Timur dunia hingga Barat. Mereka antara lain:  Nabi Nuh as,  Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, Nabi Isa as dan Nabi Muhammad Saw.

Silsilah kenabian berakhir dengan hadirnya sosok suci Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir. Ajaran universal Islam dari sisi pengetahuan agama serta undang-undang kemasyarakatan, disusun sedemikian rupa sehingga mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat pada setiap masa. Karena Islam berupa seperangkat undang-undang, syariat terakhir serta risalah abadi. Maka, Islam menjadi penghapus bagi agama-agama sebelumnya. Oleh karena itu, tidak layak mengikuti agama selain Islam. Sebagaimana firman Tuhan dalam al-Quran:”Barang siapa yang menerima agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi”[4]

 

Nabi Muhammad Saw

Dalam tulisan ini, tidak tepat kiranya mengulas sosok yang demikian agung. Namun, pada kesempatan ini, izikanlah untuk menyajikan sekelumit kehidupan emas beliau.

Nama agung manusia mulia ini adalah Muhammad yang artinya terpuji. Ayah beliau bernama Abdullah, sedang ibundanya yang mulia bernama Aminah binti Wahab. Hari kelahiran manusia agung ini merupakan fenomena penciptaan yang luar biasa serta sumber anugerah dan rahmat. Beliau lahir dini hari pada hari Jumat, 17 Rabiul Awal tahun Gajah di kota Mekah yang mulia. Pada tanggal 27 Rajab tahun 610 Masehi, dalam usianya yang ke empat puluh tahun, beliau diangkat menjadi Nabi. Ketika itu, Jibril datang menemui beliau serta menyampaikan pesan Tuhan untuk pertama kalinya berupa lima ayat pertama surat al-Alaq[5].

Beliau mulai menyampaikan firman Tuhan kepada masyarakat secara perlahan sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu. Terutama kerasnya penolakan dari pihak musuh penyembah berhala serta sikap tidak beradab orang-orang Quraisy. Setelah beberapa waktu, tibalah perintah Tuhan untuk menyerukan Islam kepada keluarganya.[6] Kemudian, barulah Tuhan memerintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Sebagaimana diserukan dalam al-Quran,”Apa yang diperintahkan padamu, sampaikanlah (secara terbuka)............... “[7].

Nabi Muhammad Saw memulai seruannya menyampaikan firman Tuhan di masjid Haram serta berbagai pusat aktivitas publik di kota Mekah. Beliaupun menyerukan kalimat indah Tauhid: “ÞæáæÇ áÇÇáå ÇáÇÇááå”. Beliau berhadapan dengan penentangan kaum musyrikin dan menjadi sasaran gangguan yang luar biasa dari mereka, sampai Rasul Saw sendiri bersabda: “Tidak ada satupun dari para Nabi yang mendapat gangguan seperti yang menimpaku”

 

Orang yang Pertama Masuk Islam

Adalah sebuah kesepakatan bersama didukung pendapat berbagai ahli tafsir dan sejarawan bahwa lelaki yang pertama kali menerima Islam, pada gelombang pertama dakwah Nabi Muhammad Saw adalah Imam Ali as. Sedangkan dari kelompok perempuan, istri setia beliau, Sayyidah Khadijah sa. Selanjutnya, sebagian kelompok kecil mulai menerima seruan Nabi Saw. Mereka berhadapan dengan penyiksaan, boikot ekonomi serta tekanan masyarakat kaum musyrikin Mekah.

 

Hijrah ke Madinah

Pada tahun ketiga belas kenabian, kaum Musyrikin Mekah bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad Saw. Kekejian perlakuan mereka telah sampai pada batas yang mengharuskan Rasul Saw atas perintah Allah, hijrah ke kota madinah pada malam hari. Hijrah yang penuh berkah ini, menjadi tonggak sejarah yang jelas bagi kaum muslimin. Berbagai peristiwa sejarah disandarkan pada tahun ini.

Di kota Madinah, jumlah kaum muslimin semakin bertambah dan terbentuklah pemerintahan Islam. Kekuatan serta kebesaran agama ini, hari demi hari semakin nampak sampai seluruh peradaban dunia berada di bawah pengaruh dan ajaran agama Islam yang mulia.

Selang beberapa waktu setelah Nabi Muhammad Saw menetap di kota Madinah, berdasarkan serangan kamu musyrikin, Yahudi, Kristen terhadap Islam serta kerja sama mereka untuk memusnahkan pemerintahan baru Islam dan mencegah tersebarnya agama monotheis serta penegak keadilan ini. Kondisi demikian memaksa Rasulullah Saw terlibat dalam berbagai pertempuran besar maupun kecil.

Meskipun Nabi Muhammad Saw dalam seluruh pertempuan serta peperangan bertujuan untuk menghilangkah akar kemusyrikan. Beliau juga berhadapan dengan para penghianat. Namun Rasulullah lebih mencintai perdamaian, dalam hal ini Imam Ali as menjelaskan:“Dalam medan pertempuran, tidak ada seorangpun yang mendekat kepada musuh lebih dari Nabi Muhammad Saw. Tetapi, pada dasarnya, beliau mencintai perdamaian. Beliau juga bersikap lembut, pemaaf serta penyayang”. Oleh karena itu, sejarah membuktikan bahwa jumlah korban kedua belah pihak, dari 80 pertempuran, tidak lebih dari 1400 orang.

 

Pemimpin Dunia dan Akhirat

Nabi Muhammad Saw setelah beberapa waktu menetap di kota Madinah, melalui petunjuk wahyu serta perintah langit, menjadi penerang berbagai urusan agama serta dunia masyarakat. Beliau menjelaskan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan wahyu bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan orang yang lebih besar terhadap yang lebih kecil, ayah terhadap anaknya dan sebaliknya, suami terhadap istrinya dan sebaliknya, perilaku antar tetangga, penguasa terhadap rakyat dan sebaliknya, perilaku kaum muslimin satu sama lainnya, bagaimana cara memberi dan menerima, bagaimana mengelola sebuah masyarakat, berpolitik dan ekonomi, menjadi seorang hamba serta beribadah.

Rasulullah sendiri, lebih dari yang lain mentaati serta menjalankan Islam. Beliau berdasarkan perintah wahyu menyerukan persaudaraan, persamaan, menghilangkan sikap fanatik kelompok yang berlebihan serta menghapus sekat-sekat pemisah antar kelas. Beliau juga melepaskan berbagai rantai, ikatan penghambaan jahiliah serta menghadiahkan kebebasan pada seluruh masyarakat dunia.

Rasulullah Saw dalam menjalankan roda pemerintahan menjadi sumber manifestasi rahmat Tuhan, keadilan Islam, pemusnah kezaliman, musyawarah, nasihat, keberanian serta pemaaf. Tidak terlihat sedikitpun tanda kedengkian serta balas dendam di hatinya. Beliau merupakan tauladan nyata seorang pemimpin Islam di dunia.

Nabi Saw selalu mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri. Beliau cukup hanya dengan kurma dan air, sedang daging serta gandum diberikan kepada yang lain. Beliau hanya mengenakan baju kasar, sedangkan pakaian lembut dihadiahkan kepada yang lain. Perlakuan  beliau sama terhadap semua orang. Bahkan dalam berbagai pertemuanpun, pandangan beliau selalu mengitari semua yang hadir, tidak tertuju pada seseorang atau beberapa orang saja.

 

Haji Wada dan Peristiwa Setelahnya

Setelah Islam sempurna dari sisi undang-undang, dalam haji Wada Rasul Saw menjelaskan manasik haji kepada kaum muslimin. Pada saat kembali, di tempat bernama Ghadir Khum, beliau menetapkan penggantinya yang tidak lain adalah Ali bin Abi Thalib as. Sehingga kelanjutan risalah ini menjadi jelas. Saat itulah turun ayat al-Quran, ”Pada hari ini telah Ku sempurnakan agama Islam untuk kalian, telah kucukupkan nikmat bagi kalian  dan hanya Islam sebagai agama yang diterima”[8]

Tidak lama setelah peristiwa besar tersebut, Nabi Muhammad Saw jatuh sakit, beliau terbaring dalam kondisi demam. Waktu terus berjalan, sakit yang diderita Nabi pun semakin parah. Akhirnya, ruh suci Nabi terakhir menghadap Illahi pada hari senin, 27 Safar tahun kesebelas Hijriah. Imam Ali as memandikan jasad suci Rasul Saw, sesuai dengan wasiat beliau. Imam as juga yang mengkafani serta menshalatinya. Kemudian para sahabat Nabi yang lainpun secara berkelompok menshalati jenazah Rasulullah Saw. Pada hari Sabtu, jenazah suci Rasul Saw dimakamkan oleh Imam Ali as di kamar[9], tempat beliau wafat di kota Madinah[10].

Nabi Muhammad Saw pada seluruh hidupnya merupakan manifestasi kesempurnaan serta tauladan nyata dalam menunaikan amanat, ikhlas, jujur, keindahan akhlak, keilmuan, sabar, maaf, pemberani, takwa, keutamaan serta kemuliaan, menjaga kesucian, adil, tawadhu, kesungguhan serta menunaikan kewajiban. Rasul Saw dari sisi fisik memiliki bentuk yang sempurna. Wajah mulia beliau begitu indah laksana bulan purnama yang memancarkan cahaya.

Ringkasnya, Nabi Muhammad Saw memiliki keutamaan sebagai Nabi terakhir. Beliau adalah neraca ilmu, keadilan dan keutamaan. Beliau juga merupakan timbangan dunia serta akhirat yang tiada banding di masa lalu dan yang akan datang. Agama beliau merupakan agama terbaik dan kitab beliaupun adalah kitab terbaik. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran,”Tidak ada kebatilan di dalam al-Quran yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji”[11].

 

Quran sebagai Mu’jizat yang Kekal

Al-Quran merupakan mu’jizat yang hidup dan bukti risalah Rasulullah Saw, berisi tentang berbagai aturan illahi dan kehidupan manusia yang diturunkan dalam dua puluh tiga tahun. Sekitar duabelas tahun setengah, yaitu dari sejak Rasulullah diangkat menjadi Nabi di Mekah hingga hijrah ke Madinah. Maka, seluruh ayat yang turun ketika itu dinamakan “surat Makkiyah”. Sedangkan sisanya, sejak Rasulullah hijrah ke Madinah dinamakan “surat Madaniyah”. Atas prakarsa beliau al-Quran terjaga utuh seperti yang kita saksikan  hingga  saat ini.

Sebelumnya jazirah Arab berada dalam masa pemerintahan berhala buatan manusia. Ketika itu, budaya syirik dan penyembahan berhala memenuhi berbagai tempat. Kerusakan moral dalam beragam bentuk memenuhi segenap penjuru jazirah Arab seperti pembunuhan bayi perempuan tidak berdosa hidup-hidup, peperangan antar kabilah, buta hurup dan tindakan biadab lainnya.

Dalam kondisi yang sangat merisaukan ini, datanglah lelaki pilihan Tuhan memutuskan rantai kebodohan dan perbudakan di jazirah tersebut. Kedatangan lelaki ini, merubah ruh kebudayaan dari  kegelapan dan ketertingalan budaya menuju keagungan dalam pancaran cahaya iman dan ilmu.

Islam sebagai agama abadi dan penyempurna agama-agama sebelumnya hingga hari kiamat, dan al-Quran sebagai petunjuk hidup diturunkan untuk kebahagian dunia dan akhirat.

 

Ketinggian dan Kefasihan  Bahasa Quran

Al-Quran selain berisi pembahasan ilmiah yang membawa pada kemajuan berfikir, tetapi pada dasarnya al-Quran adalah mu’jizat langit. Oleh karena itu, adanya berbagai formula tersembunyi menjadi daya tarik yang tidak henti-hentinya bagi manusia. Ketika itu, masyarakat Hijaz yang memiliki selera sastra tinggi dengan keindahan gaya bahasanya, tidak berdaya menghadapi keindahan al-Quran. Padahal, sejak Rasulullah Saw diangkat menjadi Nabi dan awal kehadiran al-Quran, mereka dapat dengan mudah menggunakan kemampuan memilih dan menyusun kalimat yang indah dengan bahasa ibu mereka sendiri untuk menantang al-Quran. Dari pada menempuh berbagai cara kekerasan. Al-Quran sendiri menghadapi para penentangnya dengan ketinggian dan kefasihan bahasa al-Quran.

Para ahli bahasa dan penyair tekenal Arab, setelah melihat keindahan susunan bahasa al-Quran, segera mencabut karya terbaik kebanggaan mereka “Mualaqat Sab’” yang ditulis dengan tinta emas. Karena, karya sastra terbaik mereka tidak berdaya menghadapi al-Quran.

Dengan berjalannya waktu, hingga saat ini tidak ada seorangpun ahli sastra dan penulis ulung di setiap masa mampu menghadapi al-Quran.

Al-Quran merupakan cahaya keabadian dan jalan petunjuk manusia menuju kemanusian, kebahagiaan dan keselamatan dengan kualitas yang paling baik, sebagaimana al-Quran menuturkannya,” inilah al-Quran yang menunjukan kepada manusia jalan terbaik dan orang-orang yang berbuat baik dan beriman akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Swt”.   Karena al-Quran adalah mu’jizat abadi Rasulullah Saw yang merupakan wahyu Illahi, maka tidak akan pernah padam untuk selamanya, “Kami menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya”. [12]

 

Quran tidak Pernah Terdistorsi

Tidak diragukan lagi penghormatan khusus terhadap kitab-kitab langit dilakukan kaum muslimin. Hal ini tumbuh dari kecintaan mereka terhadap al-Quran.

Sejak awal kenabian, kedudukan tinggi al-Quran dengan kefasihan bahasanya baik dari sisi kandungan maupun gaya bahasanya tidak tertandingi. Bahkan, tidak seorangpun orator ulung dan ahli sastra Arab dengan berbagai syair maupun pidato mereka, mampu menandingi al-Quran.

Perbedaan antara al-Quran dan syair mereka, baik dari sisi isi maupun bentuk, jauh antara langit dan bumi. Apa yang ada tidak pernah terjadi sebelumnya, maka kaum musyrikin menuduh al-Quran sebagai sihir supaya masyarakat jauh dari Rasulullah Saw. Namun, seluruh propaganda yang dilakukan tersebut tidak bisa menghentikan dakwah Rasulullah Saw. Malah sebaliknya, setiap hari semakin bertambah besar dan meluas.

Bahkan beberapa kelompok kafir, walaupun tidak beriman kepada Rasulullah, untuk memenuhi kehausan rasa sastra mereka, secara sembunyi-sembunyi mendekati rumah Rasulullah dan mendengarkan bacaan al-Quran beliau. 

 

Bacaan dan Hafalan Quran

Kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan, tua dan muda memiliki kecenderungan untuk menghafalkan al-Quran. Dengan membaca dan mengulang ayat-ayat langit, mengalami kedamaian ruhani dan mendapatkan pelajaran kebahagiaan. Sejak kenabian, lawan maupun kawan, setuju maupun menentang mendengarkan ayat al-Quran dan banyak yang menghafalnya. Oleh karena itu, tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Sejak awal seluruh kaum muslimin bersama al-Quran. Bahkan di luar shalatpun, ayat al-Quran dibaca, berargumentasi dengannya, dan saling mengajarkan di antara sesama muslim. Sekitar dua atau tiga hari setelah turunnya wahyu, banyak dari para sahabat yang hafal.

Di sisi lain, adanya sekelompok orang dari sahabat Rasulullah Saw yang mengkhususkan diri sebagai penghafal al-Quran,  yang biasa dikenal sebagai Qari di antara kaum muslimin.

Kelompok lainnya dipimpin oleh Imam Ali as sebagai ‘penulis wahyu’. Setiap ayat yang diturunkan, ditulis oleh para sahabat tersebut atas perintah Rasulullah Saw dan langsung disaksikan oleh beliau.

Tidak diragukan lagi, sebagian besar surat-surat dalam al-Quran sejak masa Rasulullah Saw sudah dikenal dan beliau sendiri menunjukan tempat setiap surat dan ayat. Bahkan pengelompokan surat seperti surat Thawal, Main dan Matsani. Rasulullah Saw menamakan setiap surat, keutamaan dan berbagai qiraat. Abdullah bin Mas’ud, Abi Ibn Ka’ab serta yang lainnya beberapa kali menemui Rasulullah dan membacakannya di hadapan beliau.

Saat ini, al-Quran dibukukan tertulis dan diletakan ditempat khusus di masjid dan tempat-tempat lain, sehingga setiap muslim bisa memanfaatkannya.       

 

Faktor Keterjagaan al-Quran

Al-Quran terjaga dari setiap penyimpangan. Karena berbagai upaya dilakukan Rasulullah Saw dengan mengarahkan  para sahabat dalam mengumpulkan dan menghafal al-Quran. Selain itu, kecintaan kaum muslimin yang besar terhadap al-Quran dan keabadian kitab ini yang berbeda dari kitab langit lainnya.

Kondisi demikian, berbeda dengan kitab Taurat dan Injil. Taurat sekitar seribu tahunan dan Injil tiga ratus tahunan tidak berada di tangan masyarakat. Karena berada dalam pengaruh berbagai peristiwa politik serta militer dan setelah bertahun-tahun baru kemudian dikumpulkan. Namun kitab kaum Muslimin sejak diturunkan hingga kini, tidak pernah mengalami penambahan maupun pengurangan.

Al-Quran sejak masa Rasulullah hingga kini tidak mengalami perubahan. Ulama besar Syiah dalam rentangan sejarah mengungkapkan al-Quran dengan segala kemurnian, kekuatan sanad dan tanpa adanya distorsi sekalipun. Seperti yang dilakukan Syeikh Saduq, Syeikh Mufid, Sayid Murtadha, Syeikh Thusi dan Syeikh Tabarsi serta ulama Syiah lainnya yang menolak adanya distorsi al-Quran.

Al-Quran merupakan kitab langit dan mu’jizat abadi Rasulullah Saw yang tidak ada sedikitpun penyimpangan didalamnya. Al-Quran yang tengah berada di tangan kita kini adalah juga al-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. Para Ma’sumin lainnya juga menggunakannya sebagai timbangan antara benar dan batil. Maka apa yang tidak sejalan dengan al-Quran tidak bisa diterima. Berbagi perintah dan nasihat tentang kitab ini antara lain: pentingnya mempelajari al-Quran, beramal dengan al-Quran, pahala membaca al-Quran, menghormati al-Quran, tata cara membaca, menyimpan dan mendengarkan al-Quran. Di atas itu semua, menerapkan aturan al-Quran dalam kehidupan sehari-hari antara lain kehidupan pribadi, sosial dan budaya. Karena tanpa menerapkannya, tidak sampai pada kemuliaan dan kebahagiaan.


[1] Qs. adz-Dzariyat: 56

[2] Qs. al-Mulk: 2

[3] Qs. al-An’am: 165

[4] Qs. al-Imran: 85

[5] Qs. al-Alaq:1-5

[6] Qs. as-Syu’ara: 214

[7] Qs. al-Hijr: 94-95

[8] Qs. al-Maidah: 3

[9] Yang tidak lain adalah kamar Sayyidah Fatimah Zahra as

[10] Untuk mengetahui lebih jauh kehidupan Nabi Muhammad Saw dapat merujuk pada buku

 “áÇæá ãÑå Ýی ÊÇÑیÎ ÇáÚÇáã”  jilid 1 dan 2 karya Ayatullah Sayyid Muhammad bin Mahdi Huseini Syirazi

[11] Qs. Fushilat: 42

[12] Qs. al-Hijr: 9