::

Selayang Pandang

::

Kata Pengantar

::

Sujud di Atas Tanah

::

Membangun Makam Suci

::

Menghias Makam Suci

::

Mencium Terali Kuburan

::

Tawasul Kepada Aulia Allah

::

Ziarah Kubur

::

Nikah Mutah

::

Kepustakaan

::

Malam-malam di Pishawar

::

Wawancara dengan Muhammad Shahadah

::

Wawancara dengan Syekh Hasan Syahatah

 

Syiah Yang Di Tuduh
Penulis :
Ayatullah Uzma Sayyid Shadiq Syirazi

Penerjemah:
Purkon Hidayat dan Muhammad Alkaff

Rasulullah Saw bersabda :
ی ی یʘ

Wahai Ali, Engkau dan Syiahmu adalah Orang-orang yang benar(1)

 


Selayang Pandang
Segala puji dipanjatkan hanya kepada Allah Swt, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam dicurahkan pada pembawa obor petunjuk, pemimpin ummat baginda Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya yang suci serta laknat bagi musuh-musuhnya.
Pemikiran Syiah tidak banyak diketahui karena keterbatasan informasi yang diterima masyarakat. Padahal, Syiah memiliki kekuatan untuk menjelaskan keyakinan ajarannya dengan argumentasi rasional dan dukungan nash. Namun, sangat disayangkan kesempatan tidak diberikan. Berbagai tekanan tersebut di antaranya meluasnya aktivitas kesesatan berpikir dalam masalah keyakinan sebagai akibat penolakan, teror, pengkafiran terhadap yang lain. Hal ini menyebabkan terjadinya keraguan dan menjauhkan jarak dengan Islam Rasululah Saw. Agama yang lembut dan maju diterima dengan baik.
Dalam atmosfir demikian, umat Islam tidak terlalu mengetahui kebenaran seperti yang diisyaratkan Rasulullah Saw dan Ali as.(2) Sekte Wahabi dan yang berjalan bersamanya menggunakan kesempatan ini untuk mencoreng wajah Syiah yang merupakan bagian dari umat Islam dengan berbagai tuduhan keji.
Padahal, Allah Swt menegaskan bahwa menilai keyakinan seseorang harus disertai dengan argumentasi ilmiah dan logis, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran antara lain:
ی
Katakanlah, bawakanlah argumentasimu.(3)
Di sisi lain ketidaktahuan seseorang dan tidak memadainya pengetahuan yang diperlukan seperti ilmu tafsir, hadis, sejarah dan sirah Rasulullah Saw dan para Imam Maksum diperparah dengan tidak diketahuinya berbagai makar yang mengatasnamakan agama dan mazhab secara halus menjadi media yang empuk bagi para penyerang pemikiran dan keyakinan keagamaan.
Dengan maksud melindungi masyarakat Islam dari penyelewengan tersebut, maka media pertumbuhan pikiran dan ilmiah sebatas yang dapatdilakukan seiring firman Allah dala al-Quran
ی ی
Debatlah perkataan mereka dengan cara yang baik(4)
Tanggung jawab membangun kebudayaan dan membentuk perubahan pemikiran, merupakan peran yan harus dimainkan oleh para agamawan dan membela agama yakni membela keyakinan suci Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya serta menyampaikan kebenaran tersebut pada ummat Islam dengan jelas. Di sisi lain negeri dan bangsa yang tidak fanatik terhadap keyakinannya, dapatmenjangkau informasi seputar keyakinan Syiah. Dalam kondisi demikian, keyakinan Syiah yang sebenarnya merupakan ajaran Ahlul Bait Rasulullah Saw yang seirama dengan fitrah suci manusia.
Buku yang ada di tangan Anda saat ini adalah terjemahan Haqaik an as-Syiah, merupakan salah satu buku yang mengupas seputar berbagai tuduhan keji yang tidak mendasar dengan bahasa yang sederhana, ringkas dan indah.
Penulis buku ini, Marja Ayatullah Uzma Sayyid Shadiq Husein Syirazi dalam penulisan buku menggunakan metode dialogis yang hidup dengan bahasa yang juga sederhana dan mudah dipahami di berbagai lapisan masyarakat.
Beliau dalam menulis buku ini menghindari pembahasan bertele-tele yang jauh dari realitas sebenarnya. Namun, buku ini menggunakan kebenaran ilmiah dengan argumentasi logis. Walaupun demikian, buku ini juga ditulis dengan ringkas dan sederhana namun tetap menukik dengan mudah menghantarkan pembaca pada ajaran ahlul Bait as. Tidak heran jika buku ini beberapa kali mengalami cetak ulang.(5)
Pada akhir buku, diperkenalkan pula beberapa karya penting seputar kajian Syiah dan wawancara media dengan tokoh-tokoh penting Ahli Sunah yang akhirnya memeluk syiah. Buku inipun mirip dengan berbagai karya tersebut, menghantarkan para pencari kebenaran.
Semoga upaya yang dilakukan ini diterima sebagai amal ibadah oleh Allah Swt. Dan kita memohon pada-Nya semoga kehadiran Imam Zaman af semakin dekat dan kita termasuk para pengikutnya yang setia. Insya Allah.
Penerbit
 

Kata Pengantar
Imperialisme dan para penggeraknya senantiasa memercikan api perpecahan di kalangan umat Islam. Lalu memerintah di atas strategi politik timbulkan perpecahan, kuasailah hingga mencekeramkan kakinya di berbagai negeri dunia Islam.
Kita menyaksikan strategi politik ini tidak disadari oleh sebagian kaum Muslimin, hingga sebagian dari mereka menikam yang lainnya dengan tuduhan palsu. Padahal al-Quran telah mengisyaratkan bahwa di antara sesama muslim bersaudara. Namun berbagai tuduhan tetap saja dilancarkan sebagian kelompok kaum muslimin kepada sesama muslim yang berbeda mazhab. Padahal kini sudah saatnya seluruh kaum muslimin menyatukan langkah melawan imperialisme dan para pelakunya yang menjadi penyebab perpecahan terjadi.
Adapun perbedaan pandangan di antara mazhab-mazhab Islam harus diselesaikan dengan dialog yang jauh dari kedengkian dan permusuhan. Semua itu dilakukan dalam lingkaran prinsip-prinsip Islam yang disepakati seluruh kaum muslimin. Jika di antara kaum muslimin terjadi perbedaan pendapat yang menyebabkan pertikaian dan saling mengkafirkan, hal ini akan meruntuhkan tembok persatuan Islam yang telah dibangun bersama. Kondisi demikian menjadi media yang empuk bagi penjajahan di berbagai bidang mulai pemikiran, ekonomi, budaya dan berbagai aspek lainnya.
Berangkat dari dasar pemikira diatas, buku ini ditulis untuk meminimalkan friksi akibat adanya kesalah pahaman tentang Syiah dua belas Imam. Dalam buku ini sekaligus membuktikan berbagai tuduhan keji yang dilancarkan terhadap Syiah, apakah demikian adanya atau tidak ? lalu, apakah Syiah berada di jalan kebenaran ataukah tidak ?
Kami bermohon pada Allah Swt, semoga diberikan petunjuk dalam menyebarkan hakikat kebenaran sebagaimana adanya Islam yang sebenarnya dan menimbang semua dalam teraju Islam serta mengamalkannya.

28 Dzulhijah 1380 Hq
Karbala
Shadiq Huseini Syirazi

Sujud di Atas Tanah
Sami : Ali,mengapa kamu dan orang-orang Syiah bersujud di atas tanah yang dikeringkan.
Bukankah perbuatan menggantikan Tuhan dengan tanah itu syirik.
Ali : Bolehkan saya bertanya sesuatu padamu sebelum kujawab pertanyaan itu ?
Sami : Silahkan.
Ali : Apakah kita wajib bersujud pada jasmani Tuhan ?
Sami : Ali, perkataanmu itu syirik. Karena Tuhan tidak memiliki jasmani. Tuhan tidak dapatdilihat dengan mata dan tidak dapat diraba dengan tangan. Barang siapa yang meyakini Tuhan memiliki jasmani tidak diragukan lagi kesyirikannya. Oleh karena itu bersujud hanyalah pada Tuhan Swt, selain itu syirik. Karena Tujuan dari sujud adalah kepasrahan kepada-Nya.
Ali : Perkataanmu seperti itu, jelas menetapkan bahwa sujud di atas tanah tidak masuk kategori syirik. Karena tanah bukan sebagai sesuatu yang disujudi. Seandainya tanah adalah Tuhan yang disujudi, mengapa bersujud kepada Allah, bukan pada tanah tersebut ?
Sami : Nampaknya baru pertama kali saya mendengar analisis seperti itu. Kalian meyakini bahwa tanah itu bukan Tuhan oleh karena itu tidak bersujud pada tanah tersebut.
Sami kembali berkata : Bolehkan saya kembali menanyakan sesuatu padamu Ali ?
Ali : Silahkan
Sami : Apa yang menyebabkanmu bersikeras bersujud di atas tanah dan tidak dan pada selainnya ?
Ali : Seluruh mazhab Islam bersepakat tentang ini. Selain itu ada hadis dari Rasulullah yang menekankan perihal ini, antara lain:
ی
Tanah bagiku adalah tempat bersujud dan pembersih
(sesuatu yang dapat membersihkan )(6)
Oleh karena itu, bersujud di atas tanah murni diperbolehkan dan seluruh mazhab Islam berkeyakinan yang sama bahwa sujud di atas tanah murni diperbolehkan dan diterima.
Sami : Kesepakatan seluruh kaum muslimin tentang sujud di atas tanah ini bagaimana dapat terjadi?
Ali : Ketika itu Rasulullah Saw memasuki Madinah dan membangun masjid di sana. Apakah di dalam masjid tersebut dihamparkan sejadah maupun permadani?
Sami : Tidak, sejadah maupun permadani tidak dihamparkan dalam mesjid.
Ali : lalu, Rasulullah dan kaum Muslimin bersujud di atas apa ?
Sami : Di atas tanah.
Ali : Oleh karena itu, seluruh shalat Rasulullah Saw dilakukan di atas tanah dan beliau bersujud di atas tanah. Selain itu seluruh kaum muslimin mengikuti Rasulullah bersujud di atas tanah. Sejak itu, bersujud di atas tanah memiliki sandaran hukum yang shahih dan jelas. Maka kamipun mengikuti beliau bersujud di atas tanah yang tidak diragukan kesahihannya.
Sami : Mengapa kalian tidak mau bersujud di atas selain tanah?
Ali : Untuk meluruskan persoalan ini, kami siapkan dua jawaban antara lain:
1. Mazhab Syiah meyakini diperbolehkannya bersujud di atas sesuatu yang berasal dari bumi apakah tanah maupun batu.
2. Sucinya tempat sujud merupakan syarat syahnya shalat. Maka bersujud di atas tanah yang najis tiak diperbolehkan. Oeleh karena itu, kami selalu membawa tanah yang dikeringkan untuk dijadikan tempat sujud. Namun diperbolehkan sujud di atas tanah najis yang tidak diketahi kenajisannya.
Sami : Jika maksud kalian bersujud di atas tanah, mengapa tidak membawa tanah saja ?
Ali : Membawa tanah seperti adanya jelas dapat menyebabkan baju kotor. Oleh karena itu gumpalan tanah tersebut kami campur dengan sedikit air kemudian dikeringkan. Dengan demikian tidak membuat kotor pakaian.
Selain itu, bersujud di atas tanah menunjukan Khudhu (kepasrahan) lebih kepada Allah Swt. Karena sujud merupakan tingkat ketundukan tertinggi, yang hanya diperbolehkan pada Allah. Oleh karena itu, jika tujuan dari sujud adalah ketundukan dihadapan Allah. Maka sesuatu yang digunakan untuk bersujud sebagai bentuk ketundukan, tidak diragukan lagi akan semakin menambah khudhu.
Berdasarkan ini, maka disunahkan sesuatu yang dijadikan tempat sujud adalah lebih rendah dari tempat tangan dan kaki diletakan.(7) Berdasarkan susunan ini, sujud menunjukan khudhu dihadapan Allah Swt. Begitu pula disunahkan dalam keadaan sujud hidung menyentuh tanah, inipun menunjukan hal yang sama ketundukan dan kepasrahan dihadapan Allah Swt. Maka bersujud dihadapan Allah dengan tanah yang dikeringkan lebih utama dibandingkan sesuatu lainnya. Karena sesuatu yang paling mulia dalam tubuh kita yaitu kening menyentuh tanah dalam keadaan sujud. Hal ini mennjukan khudhu dihadapan Tuhan, dan meyakini diri tidak ada apanya dibandingkan keagungan dan kebesaran-Nya.
Apabila seseorang sujud di atas permadani, sajadah yang mahal ataupun batuan tambang seperti emas, perak, batu akik maupun barang mahal lainnya yang pakai, sepertinya mengurangi kekhudhuan di hadapan keagungan dan kebesaran Tuhan. Setidaknya di hadapan Tuhan tidak merasakan sebagai sesorang yang tidak berdaya apa-apa. Oleh karena itu seperti dikatakan apakah sujud di atas sesuatu yang menyebabkan meningkatnya ketundukan manusia di hadapan penciptanya termasuk syirik dan kafir? Apakah salah sujud diatas sesuatu yang menyebabkan khudu dihadapan Tuhan dan sarana taqarub pada-Nya ?
Sami : Tulisan apa yang tertera pada tanah yang kalian gunakan untuk shalat ?
Ali : seluruh tanah tersebut tidak ada tulisannya. Tapi pada sebagian tanah tersebut terdapat tulisan yang menandakan tanah tersebut berasal dari karbala.(8) Apakah menurutmu ini termasuk syirik? Apakah tulisan tersebut menyebabkan tidak diperbolehkannya bersujud pada tanah tersebut? Tidak demikian kiranya bukan?
Sami : Apa keistimewaan Tanah karbala yang dipergunakan untuk shalat hingga sebagian besar dari pengikut syiah menggunakannya ?
Ali : Ada salah satu hadis menerangkan masalah ini :
ی ی ی
Bersujud di atas turbah Husein membuka tujuh tirai langit
Maksud dari hadis tersebut, sujud diatas turbah Husein dapat membantu diterimanya shalat dan diangkatnya amal menuju keharibaan Allah Swt. Namun hal ini tidak menyebabkan keistimewaan tanah karbala dibandingkan tanah lainnya.
Sami : Apakah dengan sujud di atas turbah karbala menyebabkan shalat yang batil dapat dikabulkan oleh Tuhan ?
Ali : Dalam pandangan syiah, shalat yang tidak memenuhi persyaratan sahnya dikatagorikan batil dan tidak diterima. Namun, shalat yang memenuhi segala persyaratan sahnya, kadangkala tidak dikabulkan dan tidak mendapatkan pahala disisi Allah Swt. Tatapi, shalat shahih yang dikerjakan di atas turbah Husein as diterima di sisi-Nya dan mendapatkan balasan pengampunan. Oleh karena itu, dikabukannya shalat dan shahihnya shalat dua hal yang berbeda.
Sami : Apakah tanah Karbala lebih utama dibandingkan tanah lainnya bahkan dari Mekah dan Madinah sekalipun sehingga sujud diatas tanah Karbala lebih utama ?
Ali : Menurutmu apakah hal ini menjadi masalah ?
Sami : Apakah tanah Mekah yang sejak masa Adam as menjadi haram dan tanah Madinah tempat suci Rasulullah dimakamkan lebih rendah kedudukannya daripada Karbala ? Apakah Husein bin Ali as lebih mulia dibandingkan kakeknya Rasulullah Saw ? Hal ini tidak terlihat aneh di matamu ?
Ali : Tidak, tidak demikian kiranya. Keagungan dan kemuliaan Husein as berasal dari Rasululah Saw. Imam Husein as sampai pada keagungan dan kemuliaan dalam menjaga agama kakeknya hingga menemui kesyahidan. Benar, kemulian dan keagungan Imam Husein bagian dari Rasulullah Saw. Namun Imam Husein as, keluarga dan pengikutnya berdiri kukuh mengorbankan seluruh jiwa dan raganya dalam mempertahankan Islam dari para hamba nafsu. Imam Husein as mendapatkan kemulian dari Allah Swt antara lain :
1. Dikabulkannya doa
2. Para Imam dari keturunanya
3. Obat bagi seluruh penyakit dari dalam turbah tersebut.
Berdasarkan hal ini turbah Imam Husein as dengan keagungan dan kedudukannya yang mulia, ditempuh melalui pengorbanan dijalan suci Islam. Imam Husein terbunuh dalam kondisi yang paling mengenaskan, keluarganya menjadi tawanan dan para pengikutnya terbunuh di medan perang. Sekarang dengan keadaan demikian, apakah kamu tidak melihat keutamaan di dalamnya ? Apakah melihat tanah Karbala lebih utama dibandingkan tanah lainnya sehingga Imam Husein as lebih mulia dari Rasulullah Saw. Kenyataannya tidak demikian. Menghormati turbah Imam Husein as bermakna menghormati Imam Husein as dan menghormati beliau bermakna mengagungkan Rasulullah Saw dan Tuhan.
Sami : Pendapatmu benar sekali. Sebelumnya saya menduga bahwa Imam Husein as di mata kalian lebih mulia dibandingkan Rasulullah Saw. Tetapi sekarang, saya menyadari kekeliruan tersebut. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Setelah ini, saya senantiasa membawa turbah karbala kemanapun berada dan sayapun akan meninggalkan sujud di atas permadani dan lainnya yang tidak memenuhi syarat.
Ali : Saya hanya menyampaikan kebenaran hingga tuduhan yang tidak berdasar dan bohong dari musuh terhadap Syiah. Permusuhan yang pada hakikatnya musuh seluruh kaum muslimin. Saya mohon padamu untuk selanjutnya, segala tuduhan yang ditujukan pada Syiah tidak diterima begitu saja, telitilah dan tetaplah selalu mencari kebenaran.
 

Membangun Makam Suci
Fuad : Jafar, izinkanlah saya menanyakan sesuatu padamu berkaitan dengan ikhtilaf antara Suni dan Syiah ?
Jafar : Silahkan. Saya senang jika ada seseorang yang bangkit dengan pengetahuan dan tidak ikut-ikutan mengikuti begitu saja pandangan yang tengah beredar di masyarakat.
Fuad : Jika dikatakan bahwa kami Ahli Sunah berdasarkan hakikat menerima hal itu ?
Jafar : Saya termasuk diantara orang yang mengakui dengan pengetahuan tunggal terhadap hakikat tidak diragukan lagi tentang Syiah dan mazhab inilah yang saya terima. Kamu sendiri mengetahui, ayah, ibu, saudara dan keluargaku adalah orang-oarang Suni.
Fuad : Kalian orang-orang Syiah membangun dan menghias kuburan para Nabi, Imam, orang-orang saleh. Lalu shalat di samping kuburan tersebut, bukankah hal ini tidak diragukan lagi termasuk perbuatan syirik? Sebagaimana orang-orang musyrik menyembah berhala, kalian memperlakukan kuburan orangorang shalih demikian.
Jafar : Nampaknya kini saat untuk menjauhkan diri kita dari fanatik buta, realistislah dengan keadaaan yang ada. Bersandarlah pada kitab Allah, sunah Rasulullah Saw dan jalan orang-orang salih.
Fuad : Benar, inilah juga yang saya yakini. Saya senang keyakinan yang kita miliki diperoleh berdasarkan pemahaman dan pengetahuan bukan taklid buta.
Jafar : Ada dua hal yang penting untuk diketahui
Pertama, tidak hanya kami orang-orang Syiah yang membangun dan memperindah makam para pembesarnya. Namun hampir seluruh kaum musliminpun melakukan hal yang serupa terhadap para Nabi dan penerusnya serta para pembesar agama, Berikut akan disampaikan beberapa contoh antara lain :
1. Makam Rasulullah Saw dan dua khalifah yang memiliki bangunan cukup megah.
2. Makam beberapa Nabi di antaranya Nabi Ibrahim as. di kota alkhalil yordania memiliki bangunan yang tidak kalah megahnya.
3. Makam Nabi Musa as yang terletak antara kota Bait al-Muqadas dan Aman yang berada di Yordania juga memiliki bangunan megah.
4. Makam Abu Hanifah di Bagdad termasuk juga yang memiliki bangunan megah.
5. Makam Abu Hurairah di Mesir sebagai salah satu tempat ziarah kaum Muslimin di Mesir yang juga dibangun cukup megah.
6. Makam Abdul Qadir Jailani di Bagdad juga demikian
Di berbagai tempat lain yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh negeri kaum muslimin, makam para Nabi, dan para ulama besar dibangun dengan biaya yang ditanggung bersama kaum muslimin. Kaum muslimin dengan beragam mazhab yang beraneka ragam melakukannya dengan kecintaan kepada pemimpin mereka. Oleh karena itu, tidak hanya kami yang melakukan hal ini. Namun kaum muslimin lainnya dari beragam mazhabpun melakukan hal yang sama. Merak membangun dan memperindah makam para pemimpin mereka dan menziarahinya.
Kedua, kami orang-orang Syiah dan saudara-saudara kita dari mazhab lainnya, ketika melakukan shalat di sekitar makam salah satu Aulia Allah pada dasarnya untuk Allah Swt, bukan untuk Aulia Allah. Karena, dalam setiap shalat kami menghadap kearah Kiblat bukan kearah makam tersebut.
Fuad : Mengapa shalat kalian mengarah pada makam tersebut, bukankah ini sama saja dengan mengganti kiblat dari kabah menjadi arah kuburan yang kalian agungkan ?
Jafar : Pada saat shalat di belakang kuburan tersebut hanya kiblat yang dijadikan arah bukan kuburan tersebut. Adapun ketika kuburan tersebut di depan kami ini tidak dimaksudkan sebagai kiblat menggantikan kabah. Tidak demikian. Secara lebih jelas hal yang sama dapat kita lihat pada pelaksanaan shalat yang dilakukan menghadap Kiblat. Apakah ketika kita shalat tujuannya adalah bangunan Kabah itu sendiri yang kita sembah ?
Lebih jauh dari ini, seluruhnya bersepakat bahwa, shalat menghadap kiblat sah dilakukan meskipun di tempat ibadah orang musyrik, walaupun berada dihadapan berhala sekalipun. Karena tujuan orang yang shalat adalah Tuhan bukan berhala tersebut dalam keadaan seperti itu apakah orang yang shalat tersebut menyembah berhala ?
Fuad : Jika demikian yang kalian katakan, membangun kuburan tidak termasuk syirik. Karena berdasarkan fatma ulama Hijaz (Saudi) membangun dan memperindah kuburan para pembesar Syiah sekedar alasan untuk mengantikan Tuhan dengan kuburan tersebut ?
Jafar : Seluruh ulama Hijaz tidak berfatwa demikian. Tetapi, sebagian dari mereka hanya pada masanya saja memberikan fatwa seperti itu. Salah seorang dari pembesar Madinah mengatakan kepada saya, Ketika perintah untuk menghancurkan pemakaman Baqi keluar, sebagian ulama Hijaz menolaknya. Dengan argumentasi bahwa perbuatan ini tidak syirik, tetapi diperbolehkan dalam syariat Islam bahkan disunahkan berdasarkan firman Allah Swt dalam al-Quran :
ی ی
Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Tuhan, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati(9)
Klaim orang yang mengira bahwa membangun makam para aulia Allah termasuk syirik tertolak dengan argumentasi ini. Bantahan ini menyebabkan banyak dari para ulama Hijaz yang akhirnya kehilangan mata pencaharian karena dikeluarkan dari instansinya. Maka yang tersisa adalah para ulama yang memberikan fatwa pengkafiran terhadap tindakan ini.
Fuad : Nampaknya sayapun berpikir demikian. Jika kaum muslimin sejak zaman Rasulullah Saw hingga kini, rasulullah tidak pernah melarangnya. Mengapa baru Sekitar 13 abad diketahui hal tersebut diharamkan ?
Jafar : Rasulullah menandatangani dan tidak melarang pekerjaan ini.
Hijir Ismail sebagai tempat di makamkannya Nabi Ismail as dan Ibunya Hajar. Sebagai bukti terbaik yang dapat diberikan. Makam para Nabi seperti Nabi Ibrahim as dan Nabi Musa as sebagai contoh yang jelas dari masa Rasulullah Saw hingga kini. Rasulullah juga Khalifah tidak pernah melarang kaum muslimin untuk menziarahi makam tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan sebagian kelompok yang menuduh tindakan ini termasuk syirik. Tidak diragukan sebelum datangnya fatwa belakangan, Rasulullah Saw tidak pernah memberikan perintah untuk melarang berziarah.
Di sisi lain, setelah Rasulullah Saw wafat, beliau dimakamkan dengan kondisi pintu yang tertutup. Dengan demikian makam beliau berda dalam ruangan kamar dengan empat arah dinding tertutup. Oleh karena itu, jika salah seorang dari sahabat beliau mengharamkan dan tidak memeperbolehkan tindakan demikian yang berasal dari Rasulullah, maka tidak diragukan lagi akan diumumkan oleh Rasulullah hingga beliau tidak dikuburkan dalam kamar tersebut. Maupun, jika terlanjur dimakamkan maka harus dibongkar kembali. Ketika itu para sahabat dan keluarga beliau tidak melakukan demikian, oleh karena itu mendirikan bangunan pemakaman tidak syirik dan tidak juga haram.
Fuad : Terima kasih telah membuka pandangan saya tentang hakikat sebenarannya mendirikan bangunan pemakaman yang tidak termasuk syirik. Juga telah membongkar seluruh pembahasan yang ternyata tanpa dasar syari yang memadai dalam pengharaman seperti yang saya ketahui sebelumnya.
Jafar : Saya juga menguacapkan terima kasih padamu telah bersedia membuka pembahasan ini dan menelusurinya dengan argumentasi logis. Selanjutnya kita mencoba akan lebih jauh lagi mengarungi pencarin kebenaran agama ini. Oleh karena itu jika masih memiliki kesempatan kita diskusikan lebih jauh lagi.
Fuad : Dengan segala daya dan upaya, saya siap melanjutkan pembahasan ini. Teruskan dan katakan apa yang ingin kau sampaikan.
Jafar : Dalam diskusi kita apakah sudah jelas bahwa mendirikan bangunan pemakaman Aulia Allah diperbolehkan dan tidak diharamkan sama sekali ?
Fuad : ya, sayapun dalam hal ini sepakat dengan pendapatmu.
Jafar : Sekarang saya ingin mengatakan bahwa mendirikan bangunan pemakaman aulia Allah dan memasang terali mengitari kuburan merupakan amalan sunah. Maka barang siapa yang melakukannya akan memeroleh pahala dari Allah swt.
Fuad : Bagaimana bisa demikian ?
Jafar : Allah Swt berfirman :
ی ی
Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Tuhan, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati(10)
Berdasarkan ayat ini, setiap mengagungkansyiair Illahidipandang sunah dalam Islam.
Fuad : Benar, tetapi bagaimana kaitannya mendirikan bangunan pemakaman termasuk dengan syiar Illahi ?
Jafar : Syiar Illahi adalah sesuatu yang membesarkan dan mengagungkan agama keseluruh penjuru dunia. Selain itu tidak ada dalil yang mengharamkannya.
Fuad : Apakah mendirikan banguna seperti itu sama juga dengan tindakan mengagungkan agama ?
Jafar : ya
Fuad : Bagaimana ?
Jafar : Tidak diragukan bahwa mendirikan bangunan pemakaman para pembesar agama Islam sama dengan membesarkan mereka yang telah berjasa dalam agama ini. Sebagai contoh, menanam bunga di sekitar kuburan apakah hal ini tidak dimaksudkan untuk menghormati mayit yang berada adalam kuburan tersebut ?
Fuad : Benar demikian adanya.
Jafar : Sekarang, jika didirikan bangunan sekitar kuburan itu, tidak diragukan lagi sama dengan mengagungkan orang yang berada dalam kuburan tersebut. Maka mengagungkan pembesar agama sama dengan mengagungkan agama itu sendiri. Karena mereka telah mengajak masyarakat menuju pada agama. Menurutmu jika menghormati pemimpin partai, kelompok maupun gerakan tertentu apakah tidak termasuk bagian dari menghormati partai, kelompok ataupun gerakan tersebut ?
Fuad : Ya, benar perkataanmu.
Jafar : Maka mendirikan bangunan pemakaman Aulia Allah merupakan upaya menghormati mereka, mengagungkan Allah dan menyebarkan kebesaran Islam. Dengan kata lain, segala sesuatu yang menyebabkan nama Tuhan diagungkan dan membesarkan Islam termasuk syiar karena adanya firman Allah yang memerintahkan hal ini, Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Tuhan, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati
Fuad : Dalam kondisi seperti ini, merusak pemakaman para Nabi dan Aulia Tuhan lainnya merupakan tindakan tidak hormat terhadap agama dan merendahkan Islam. Karena tindakan tersebut menghina pembesar agama kita yang pada hakikatnya menghina agama dan merendahkan Islam.
Jafar : Dengan dalil ini pula saya memilih mazhab Ahlul Bait. Sekarang namaku sudah berubah dari Walid menjadi Jafar. Ketika masih mengikuti pendapat orang lain, saya sendiri merasa mengikuti kebenaran. Tetapi pada saat mencari kebenaran hakiki sampai pada kondisi seperti ini.
Ketika manusia melepaskan kefanatikan yang melakat pada keyakinannya, membuka diri menerima kebenaran maka akan sampai pada kebenaran itu.
Fuad : Saya akan mengikuti kebenaran dari manapun berada dan dari siapapun diperoleh. Setelah semua informasi yang kamu sampaikan ini, saya haturkan terima kasih. Sekarang saya ingin pamit, ada janji yang harus saya penuhi.
Jafar : Silahkan, semoga Allah melindungimu.
Fuad : Selamat tinggal
Jafar : Selamat jalan
 

Menghias Makam Suci
Shabir : Assalamu Alaikum
Baqir : Walaikum Salam Warahmatullah
Shabir : Selamat datang.
Baqir : Putra pamanku sekarang ada di sini, aku ingin menemuinya.
Shabir : Dengan senang hati. Silahkan, apa yang dapat saya bantu saat ini.
Baqir : Banyak yang harus saya lakukan, Tapi karena silaturahmi dan menengok keluarga semuanya saya tinggalkan. Untuk itu saya mohon maaf padamu.
Shabir : Mungkinkah dua orang sahabat yang tidak pernah bertemu selama sepuluh tahun, tidak ada waktu meskipun sejam? Melihatmu, saya memiliki tanggung jawab sebagai sesama muslim. Di sisi lain, saya terlibat pembicaraan dengan salah seorang dari saudara mukmim sendiri tentang Syiah dan Suni. Untuk itu, karena percaya pada kebersihan hati dan keteguhan keyakinanmu saya ingin menanyakan beberapa persoalan seputar ini hingga saya mendapatkan kejelasan.
Baqir : Ya, saya akan datang.
Dua orang sahabat ini akhirnya memasuki rumah Shabir. Keduanya terlibat pembicaraan yang cukup serius. Kemudian Baqir bertanya pada Shabir.
Apa yang kamu bicarakan dengan temanmu yang bermazhab Syiah itu ?
Shabir : Pembicaraan kami seputar hukum memperindah makam Rasulullah, para ulama dan orang-orang shalih dengan perak, emas dan lainnya.
Baqir : Apa masalahnya jika hal ini dilakukan ?
Shabir : Apakah hal ini tidak termasuk tindakan haram ?
Baqir : kenapa diharamkan ?
Shabir : Apakah mayat mendapatkan manfaat dari tindakan ini ?
Baqir : tidak
Shabir : Oleh karena itu, pekerjaan ini termasuk tindakan mubazir dan sia-sia. Karena Allah Swt berfirman:
ی * ی یی
Janganlah berbuat mubazir dan sia-sia, kerena hal itu termasuk tindakan setan.(11)
Baqir : Lalu bagaimana menurutmu tentang emas dan perak yang menutupi beberapa bagian kabah ?
Shabir : Apa yang harus saya katakan. Saya tidak mengetahuinya.
Baqir : Sejak zaman jahiliyah hingga sekarang, emas yang begitu banyak dipersembahkan untuk kabah. Ibn Khaldun dalam bukunya Mukadimah menuturkan bahwa sejak masa Jahiliyah, Ummat terdahulu mengagungkan Kabah. Para raja menyerahkan emas dalam jumlah yang tidak sedikit. Bahkan diceritakan beragam pedang dan gazal (bait syair) emas ditemukan ketika Abdul Muthalib mengeruk sumur zamzam. Pada saat Rasulullah menguasai Mekah, ditemukan dua juta dinar emas yang merupakan hadiah dari para raja untuk Kabah dengan timbangan mencapai 200 qanthar. Setiap qanhar mencapai 100 rathal. Ali Bin Abi Thalib berkata pada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, alangkah lebih baiknya jika harta ini kita gunakan untuk melawan orang-orang Musyrik. Tetapi Rasulullah tidak menyetujuinya. Abu Bakarpun tidak menentangnya.
Ibn Khaldun mengutip Abu Wail dari Syibah ibn Utsman yang mengatakan bahwa suatu hari saya tengah menemui Umar, beliau menginginkan seluruh emas dan perak tersebut yang berada di Kabah diberikan pada kaum Muslimin.
Syibah bertanya : Mau kau apakan ?
Umar berkata : Kenapa ?
Syibah menjawab : Rasulullah dan Abu Bakar Tidak melakukan demikian.
Umar : Lalu apakah aku harus mengikuti mereka ?
Baqir : Shabir, sekarang saya bertanya padamu, apakah Kabah memperoleh mamfaat dari semua emas dan perak tersebut ? Ataukah Allah Swt memperoleh manfaat dari itu ?
Shabir : Tidak
Baqir : Bagaimanapun akhirnya, Rasulullah tidak memanfaatkan harta tersebut. Padahal saat itu Islam memerlukannya.
Barangkali muncul pertanyaan mengapa Rasulullah tidak menggunakan dinar dan dirham tersebut, padahal untuk mewujudkan tujuan illahi memerlukannya ? Jawaban yang sangat jelas adalah adanya seluruh harta berharga dalam Kabah, di mata masyarakat menambah keagungannya. Namun jangan lupa bahwa keagungan Kabah melampaui apa yang ada di benak kita. Semua harta ini tidak menambah keagungan Kabah dan ketiadaannya pun tidak juga menurunkan keagungan kabah. Oleh karena itu kubah emas, pintu-pintu dari emas dan perak seperti yang terdapat pada makam para kekasih Allah diantaranya: makam Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husein as dan Imam Ridha as. Tetapi, kedudukan meraka dengan adanya hal tersebut tidak bertambah sama sekali, sebagaimana ketika hal itupun tiada, tidak mengurangi kedudukan mereka. Sebagai contoh makam Imam Hasan as walaupun tidak memiliki kubah. Tetapi makam tersebut lebih megah dari makam Imam Husein as karena memiliki terali penutup yang megah dan dipenuhi oleh emas murni dan lainnya.
Dengan kondisi seperti ini, dengan pemberian batuan berharga berarti mengagungkan kedudukan meraka.
Shabir : Apakah dengan semua ini, Aulia Allah besar di hadapan masyarakat ?
Baqir : Ya. Untuk memperjelas hal ini lihatlah kuburan orang-orang Yahudi dan Kristen. Kuburan ulama Yahudi, tidak dirawat dengan baik. Bahkan kita tidak akan menemukan sebuah ruanganpun yang disediakan untuk para peziarah. Namun lihatlah kuburan ulama Kristen, dihiasi emas dan perak serta perhiasan lainnya. Walaupun kita tidak menerima keyakinan mereka, apakah kamu tidak melihat bagaimana mereka memperlakukan kuburan pembesar meraka? Diantara keduanya orang-orang Yahudi tidak memperlakukan dengan baik kuburan para ulama mereka, berbeda dengan oarang kristen yang memperlakukan dengan baik kuburan para ulamanya.
Shabir : Secara alamiah dengan melihat hal seperti itu pandangan kita tertuju kemegahan para ulama Kristen, dan sebaliknya para ulama Yahudi tidak ada apa-apanya.
Baqir : Oleh karena itu, dibangunnya kubah dan terali megah yang menutupi kuburan para Nabi, dan para Imam oleh orang-orang Syiah dan juga Suni didorong niat untuk membesarkan mereka.
Shabir : Apa yang kamu katakan itu benar. Dengan niat tersebut kesan berlebih-lebihan hilang.
Baqir : Benar, hal tersebut tidak termasuk pekerjaan berlebih-lebihan. Bahkan hal itu sama dengan mengagungkan Aulia Allah. Tidak diragukan lagi hal demikian juga berarti mengagungkan Islam. Karena setiap tindakan yang membesarkan dan mengagungkan Islam termasuk salah satu syiar Illahi berdasarkan firman Allah, Barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Tuhan, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
Berdasarkan dalil ini, maka menghias makam Aulia Allah termasuk syiar Illahi yang akan mendapatkan pahala disisi Allah Swt.
Shabir : Mohon maaf telah menyita waktu kamu untuk hal ini. Terima kasih telah mencerahkan pikiran saya dari ketidaktahuan tentang masalah ini.
Baqir : Lalu apakah keraguanmu tentang masalah ini sudah tuntas ?
Shabir : Ya, tentang disunahkannya perbuatan ini. Sayapun tidak meragukan al-Quran mengungkapkan hal tersebut.
Baqir : Bagaiamanapun saya siap untuk membicarakan berbagai hal meluruskan kesimpang siuran yang mungkin terjadi. Semoga semua pihak dapat mengunakannya untuk meraih hakikat kebenaran.
Shabir : Terima kasih banyak, semoga Tuhan senantiasa memberikan taufik padamu
 

Mencium Terali Kuburan
Malik : Shadiq, apa yang kamu rasakan ketika mencium terali besi pada kuburan Rasulullah dan para Imam ?
Shadiq : Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak layak ?
Malik : Bukankah pekerjaan ini termasuk syirik.
Shadiq : Siapa yang mengatakan seperti itu ?
Malik : Seluruh kaum Muslimin
Shadiq : Aneh ! Siapa yang mencium terali itu ?
Malik : Orang-orang Syiah.
Shadiq : Apakah kamu pernah melakukan ibadah haji ke Mekah
Malik : Ya, alhamdulillah
Shadiq : Apakah kamu menziarahi makam Rasulullah ?
Malik : Ya, dengan taufik Allah
Shadiq : Pasti kamu melihat ribuan orang-orang Sunni mencium terali makam Rasulullah. Namun beberapa orang yang menjadi petugas amr maruf memukul mereka dan dengan keras melarang hal itu ?
Malik : Demikian adanya.
Shadiq : Oleh karena itu bukan hanya orang Syiah yang mencium terali makam Rasulullah, tetapi banyak dari kaum Muslimin Ahli Sunah yang melakukannya.
Malik : Lalu mengapa ada yang mengharamkan hal ini, bahkan menyebut syirik pekerjaan tersebut ?
Shadiq : Orang yang mengharamkan mencium terali makam tersebut hanya sejumlah kecil dari kaum muslimin, yang merasa hanya merekalah muslim sesungguhnya. Padahal sebagian kaum muslimin tidak berkeyakinan demikian. Kelompok kecil ini menganggap selain mereka kafir dan musyrik, karena menyembah selain Allah. Dengan cara seperti ini, seluruh mazhab Islam dikafirkan.
Pasti kamu pernah melihat petugas Amr Maruf di Saudi menghina orang-orang yang mencium terali makam Nabi Saw. Kata-kata yang tidak pantas diucapkan meraka, kepada sesama muslim seperti wahai Kafir, Zindiq, Musyrik dan nam-nama lainnya yang tidak layak. Menurut meraka, tidak ada bednya apakah Syiah ataukan Sunni Maliki, Hanafi, Hambali, Safii, Syiah Zaidi, maupun mazhab Islam lainnya.
Malik : Benar apa yang kamu katakan, saya melihat dengan mata dan kepala sendiri. Lebih buruk dari itu, saya menyaksikan orang yang mencium terali makam Rasulullah dipukul dengan tongkat oleh petugas Amar Maruf hingga mengeluarkan darah. Kadangkala ada yang dipukul dadanya hingga menimbulkan rasa sakit bagi meraka. Melihat hal ini perasaan saya sedih.
Ya Allah, seluruh kaum muslimin sedunia berkumpul di tempat mulia melaksanakan ibadah suci haji dan menziarahi makam Nabi Saw. Namun sekarang, dengan adanya petugas Amr Maruf dan Nahi Munkar ini, memporakporandakan barisan kaum Muslimin.
Shadiq : Apakah kamu pernah mempertanyakannya sendiri. Apakah kamu pernah mencium putramu sendiri.
Malik : ya
Shadiq : Apakah dengan tindakan itu, berarti menyekutukan Allah
Malik : Tidak, sama sekali tidak.
Shadiq : bagaimana bisa tindakan ini tidak termasuk syirik ?
Malik : Saya melakukannya karena kecintaan kepada anak dan tindakan ini tidak termasuk syirik.
Shadiq : Apakah kamu juga mencium al-Quran
Malik : Ya.
Shadiq : Tindakanmu ini tidak termasuk syirik ?
Malik : Tidak.
Shadiq : Apakah kamu juga mencium jilid al-Quran, tidak ada apapun kecuali kulit bukan ?
Malik : Demikian adanya.
Shadiq : Oleh karena itu, kamu telah berbuat syirik kepada Allah Karena mencium kulit hewan itu.
Malik : Tidak seperti itu. Saya mencium al-Quran karena merupakan kalam illahi. Hal ini dilakukan karena kecintaan pada al-Quran. Ayo katakan di mana letak syiriknya ? Bahkan hal ini mendapatkan pahala dari Allah Swt. Maka tindakan tersebut tidak ada hubungannya dngan syirik bahkan sangat jauh.
Shadiq : Jika demikian, mengapa hal yang seperti ini dilimpahka pada kami bahwa mencium terali makam Rasulullah dan para Imam termasuk syirik ?
Barangkali dikatakan bahwa mereka yang mencium terali makam Rasulullah, meraka telah menyekutukan Allah dengan besi tersebut ! Jika hal tersebut benar, mengapa semua besi yang ada tidak semua diperlakukan seperti itu ? tidak demikian kiranya. Meraka yang mencium terali makam Rasulullah ataupun para Imam karena tidak dapat bertemu akhirnya ditumpahkan rasa rindu mereka pada besi tersebut. Oleh karena itu meraka mendapatkan pahala di sisi Allah. Maka mencium terali kuburan pada dasarnya mengagungkan Rasulullah dan para Imam yang membawa Islam. Oleh karena itu, segala sesuatu yang mengagungkan Islam termasuk syiar Illahi. Dalam hal ini Allah Swt berfirmanBarang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Tuhan, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
Malik : Jika demikian, mengapa sebagian dari kalian mengatakan syirik ?
Shadiq : dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:
ی
Setiap amal tergantung pada niat. Berdasarkan ini pahala dan siksaan diterima.(12)
Oleh karena itu, barang siapa yang mencium terali kuburan dengan niat untuk menyekutukan Allah maka hal tersebut jelas termasuk syirik. Tetapi, ketika mencium terali tersebut dengan niat karena kecintaan pada keutamaan syiar Illahi akan mendapatkan pahala di sisi Allah Swt. Kamu dapat menanyakan pada orang yang mencium terali besi makam Rasulullah maupun Aulia Allah lainnya baik dari syiah maupun suni, apa niat mereka melakukannya. Tidak diragukan lagi mereka lakukan karena karena kecintaan dan mengharap ridha Allah. Bahkan kamu mungkin tidak akan mendapatkan jawaban yang berlawanan dengan ini walau satupun.
Shadiq : Jika mencium terali makam dengan tujuan yang bukan syirik, namun dituduh syirik. Maka tidak diragukan lagi, seorangpun dari meraka yang dianggap musyrik, bukan musyrik. Maka saya bertanya padamu ketika kaum Muslimin mencium besi ataupun al-Quran dianggap musyrik, dalam keadaan seperti itu apakah meraka masih seorang muslim ?
Malik : Terima kasih banyak. Masalah ini akan saya diskusikan dengan ayah, hingga kefanatikan yang berlebihan hilang dengan sendirinya. Kalian orang-orang Syiah benar. Sejak saat ini, saya tidak akan menerima begitu saja sebuah informasi, tanpa menelitinya terlebih dahulu.

Tawasul Kepada Aulia Allah
Kamal mengerutu diiringi makian: Celaka kalian orang-orang musyrik, kafir dan zindiq berjubah muslim. Celakalah !
Muhamad menyela : Siapa yang kamu maksud?
Kamal : Orang-orang Syiah
Muhammad : Jangan mengatakan mereka musuh ataupun musyrik, karena mereka termasuk kaum muslimin.
Kamal : Membunuh mereka lebih layak dari membunuh kafir
Muhammad : Untuk apa kamu bersikap demikian? Apa dasarnya kamu mengatakan mereka musyrik ?
Kamal : Selain Tuhan, mereka menyembah sesuatu sebagai pengganti Tuhan yang layak disembah. Padahal sesuatu itu bagi mereka tidak mendatangkan manfaat maupun kerugian sedikitpun.
Muhammad : Bagaimana bisa terjadi demikian ?
Kamal : Mereka bertawasul kepada Rasulullah, para Imam dan aulia Allah. Dengan kata lain mereka mengatakan ya Ali, Ya Husein, Ya shahib al-Zaman, dan meraka meminta hajatnya. Orang Syiah mengakui bahwa mereka adalah Aulia Allah, oleh karena itu dapat memenuhi seluruh hajatnya. Menurut kamu apakah pekerjaan ini bukan syirik yang sangat jelas, kufur dan menyembah selain Allah ?
Muhammad : Izinkan saya menyampaikan sesuatu.
Kamal : Katakanlah.
Muhammad : Saya juga termasuk orang yang pernah memusuhi dan melemparkan tuduhan keji terhadap orang-orang syiah. Setiap ada kesempatan dan mereka tidak ada selalu saya gunakan untuk menumpahkan rasa permusuhan ini. Suatu saat, dalam perjalanan haji saya bertemu dengan salah seorang pengikut syiah. Berdasarkan prasangka burukku terhadap syiah, aku memperlakukannya tidak pantas. Amarah yang terpendam selama bertahun-tahun terhadap orang syiah akhirnya ditumpahkan dalam kata-kata pedas. Namun, ia dengan segenap kesabarannya terdiam. Dengan wajah berseri-seri membalas tindakanku dia hanya tersenyum. Semakin besar amarahku keramahannya semakin nampak. Akhirnya ketika aku terdiam, ia menghadap kearahku dan berkata: Saudara seimanku Muhammad, izinkanlah saya menyampaikan beberapa patah kata padamu ?
Di antara kita telah membicarakan banyak hal. Namun kita belum membahas tentang tawasul kepada Aulia Allah.
Kamal memotong pembicaraan seraya berkata: Tidak disangka-sangka. Ternyata permainan mereka dalam menutupi kesyirikan telah mempengaruhimu. Pengetahuanmu terhadap agama sangat rendah !
Muhammad : Saya datang untuk membicarakan perihal tawasul kepada Aulia Allah berdasarkan al-Quran, sunah Rasulullah dan jalan orang-orang shalih.
Kamal : Tuhan yang maha besar, sangat menyayangi semua makhluknya. Maka tidak ada penghalang antara Tuhan dan makhluk. Oleh karena itu setiap saat dan di mana saja secara langsung dapat berhubungan langsung dengan Allah tanpa perantara seperti para Nabi, Imam, malaikat, orangorang salih.Walaupun mereka di hadapan Tuhan memilki kedudukan tinggi.
Muhammad : Mengapa perantara seperti para Nabi, Imam, malaikat, orang orang salih tidak diperbolehkan.Walaupun dihadapan Tuhan memiliki kedudukan tinggi.
Muhammad : Mengapa bertawasul kepada mereka tidak diperbolehkan ?
Kamal : Manusia setelah meninggal dunia, hancur dan binasa. Siapapun tidak dapat
memanfaatkannya. Maka, bagaimana bisa sesuatu yang sudah hancur dan tiada dijadikan sebagai sarana tawasul ?
Muhammad : Apa alasanmu mengatakan bahwa kematian adalah kehancuran? Siapa yang
pernah mengatakan hal ini ?
Kamal : Imam Muhammad Ibn abdul Wahab mengatakan bahwa bertawasul pada orang-orang shalih, pada dasarnya bersandar pada sesuatu yang sudah hancur. Pekerjaan seperti ini, tidak masuk akal sama sekali. Bahkan, salah seorang pengikutnya yang berada di hadapan Muhammad bin Abdul Wahab berkata, tongkat ini dari Muhammad lebih baik dan lebih bermanfaat. Karena tongkat ini dapat digunakan untuk membunuh ular, kalajengking dan sejenisnya. Adapun Muhammad telah mati dan tidak ada manfaat yang dapat diperoleh.
Oleh karena itu, apa yang telah kita bicarakan dengan pembahasan tadi sama kiranya yaitu menetapkan tercelanya tawasul kepada orang yang mati. Walaupun itu adalah Rasulullah Saw.
Muhammad : Kenyataan sebenarnya terbalik dari apa yang kamu katakan. Karena mayat manusia merupakan penyebab untuk terbuka dan tersingkap (askar dan kasyaf). Padahal ketika ia masih hidup tidak terbuka. Allah Swt berfirman.
ݘ Ƙ ј ی ی
Namun, Kami telah menyingkapkan tiraimu .
Maka hari ini pandangannmu begitu tajam.(13)
ی ی ی ی
Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah mati.
Karena sebenarnya mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya(14).
ی ی ی ی ی
Janganlah kamu mengira orang yanggugur di jalan Allah itu mati,
bahkan mereka itu hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rezeki(15)
Bukhari dalam shahihnya menuturkan bahwa Rasulullah tengah berada di samping para pahlawan Badar. Kemudian beliau bersabda pada orang-orang musyrik yang telah mati: Aku telah menerima kebenaran yang diperintahkan Tuhan. Apakah kamupun menerima kebenaran tersebut?.Seseorang bertanya pada Rasulullah: Anda bertanya pada orang mati! Rasulullah menjawab: Pendengaran mereka lebih tajam dari pada kalian(16)
Selain itu Ghazali salah seorang ulama besar mazhab syafii berkata: Sebagian berpendapat bahwa kematian adalah ketiadaan. Ini pandangan orang mulhid dan kafir.
Kamal : Imam Ghazali berpendapat bahwa orang yang meyakini ketiadaan setelah kematian termasuk mulhid dan kafir, dari mana sumber ini kamu peroleh ?
Muhammad : Dalam bukunya Ihya al-Ulum, pembahasan ini beliau sampaikan. Dengan merujuk pada buku ini kamu akan menemukan pandangan Ghazali demikian.
Kamal : Perkataan Ghazali ini menakjubkan !
Muhammad : Perkataan Ghazali ini tidak menakjubkan sama sekali. Namun ketidaktahuan mu terhadap persoalan ini yang menakjubkan. APakah kamu tidak mendengar bagaimana Rasulullah berbicara dengan orang-orang yang terbunuh dalam perang Badar ?
Orang-orang yang mati tidak punya kekuatan mendengar dan tidak ada daya memahami. Maka tidak ada kesempatan bagi Rasulullah untuk mengatakan: kalian lebih mendengar dari mereka. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda, mereka seperti halnya kalian dapat mendengar dan memahami. Sekarang kamu sudah memahaminya ?
Kamal : Ya, tapi saya masih penasaran
Muhammad : Sekarang kamu sudah menerima bahwa pandangan syiah yang menolak ketiadaan manusia setelah kematian berdasarkan kebenaran. Apakah kamu masih ragu ?
Kamal : Tidak, tentang ini saya tidak meragukannya. Tapi ada yang masih membuat saya penasaran.
Muhammad : Apa yang masih menjadi kepenasaranmu ?
Kamal : Di satu sisi saya masih penasaran mengapa Ghazali berkeyakinan demikian. Bahkan perkataan ini didukung oleh hadis Rasulullah yang menyatakan bahwa orang yang telah mati juga seperti yang masih hidup dapat mendengar dan memahami. Namun Muhammad Bin Abdul Wahab berpandangan sebaliknya. Bahkan dengan berani mengatakan, tongkat kayu ini lebih baik dari Rasullulah. Karena mendatangkan manfaat sedangkan beliau tidak. Masalah inilah yang masih menjadi kepenasaranan saya.
Muhammad : Jangan heran. Setiap orang harus ditimbang menurut penilaian al-Quran dan sunah serta jalan orang-orang shaleh. Maka agama tidak diketahui dan ditimbang dengan pandangan seorang tokoh. Sekarang, jika seorang mukmin yang ikhlas dapat dipastikan semua perkataan dan tindakannya adalah hakikat Islam, walaupun bertentangan dengan al-Quran dan sunah? Tidak, tidak seperti itu. Tetapi menjauhi setiap penyelewengan pada seseorang dan beralih mengikuti kebenaran.
Kamal : Benar pendapatmu, keyakinan saya begitu kuat terhadap Muhammad Bin Abdul Wahab. Namun sekarang baru menyadari kekeliruan besar pandangannya tentang masalah ini. Saat ini keyakinan saya terhadap dia telah lenyap dan tidak akan merujuk persoalan hukum agama padanya.
Muhammad : kesampingkan pendapat Muhammad Bin Abdul wahab, ikutilah pendapat nuranimu sendiri !
Kamal : Ya, saya menerima bahwa manusia dengan kematian tidak akan binasa. Namun dengan pandangan seperti itu dikatakan: Tawasul pada makhluk Tuhan termasuk syirik dan menyembelih agama. Bagaimana bisa, bertawasul pada para Nabi, Imam dan orang-orang shalih ?
Muhammad : Meminta pertolongan pada oarang-oarag yang masih hidup atau memohon doa seperti wahai Baqir, wahai Jafar, wahai Ridha, bantulah saya, mohonkan ampunan dari Allah, bantulah tangan saya ke Mesjid dan lainnya. Apakah hal ini menurut syari diperbolehkan ?
Kamal : hal seperti itu diperbolehkan
Muhammad Kita sudah tetapkan bahwa manusia yang mati seperti juga orang yang hidup. Sekarang jika meminta pertolongan atau bertawasul pada meraka apa halangannya ?
Kamal : Benar apa yang kamu katakan.
Muhammad : Sayapun masih memiliki dalil tentang diperbolehkan bertawasul pada Rasulullah Saw dan juga orang-orang shalih.
Kamal : apa dalilnya ?
Muhammad : Ketika masa hidup Rasulullah dan wafatnya, para sahabat(17) bertawasul pada beliau. Ketika Rasulullah hidup dan para sahabat lainnya masih hidup, tidak mencegah tindakan tersebut. Jika tawasul kepada Aulia Allah merupakan tindakan syirik tidak diragukan lagi, Rasulullah akan melarangnya.
Kamal : Siapa saja setelah wafat Rasulullah bertawasul pada beliau ?
Muhammad : Sebagai contoh saya akan beritahukan beberapa sahabat yang melakukannya. Baihaqi(18) dan Ibn Abi Syabih dengan sanad yang shahih meriwayatkan. Juga Ahmad Ibn Zaini Dahlan meriwayatkan bahwa pada masa kekhilafahan Umar, masyarakat dilanda kekeringan. Bilal Bin Kharits mengunjungi kuburan Rasulullah seraya berkata: Wahai Rasulullah mohonkan hujan pada Allah untuk umatmu yang sedang kekeringan dan kelaparan.(19)
Tentu kita tahu bahwa Bilal dalam waktu yang relatif lama bersama dengan Rasulullah Saw dan termasuk salah seorang sahabat beliau. Bilal tanpa perantara memperoleh penjelasan hukum dari Rasulullah. Jika bertawasul pada Rasulullah termasuk syirik, maka Bilal tidak akan melakukan tindakan tersebut. Jika tetap melakukannya, sahabat lain akan mencegahnya. Inilah argumentasi yang kuat tentang diperbolehkannya tawasul pada Rasulullah Saw.
Baihaqi menuturkan dari Umar Bin Khatab bahwa Rasulullah bersabda: ketika nabi Adam as berbuat kesalahan, beliau berdoa:
ی ی ........
Tuhan, aku bermohon padamu dengan kehormatan Muhamad Saw
ampunilah dosaku.(20)
Oleh karena itu, jika tawasul pada Rasulullah termasuk haram dan syirik, Nabi Adam tidak akan melakukannya.
Dalam riwayat lainnya dikisahkan Mansur Dawaniqi melaksanakan haji. Ia menziarahi makam Rasulullah Saw. Disana bertemu dengan Malik Bin Anas. Pengikut Malik bertanya padanya:Wahai Abu Abdillah, apakah dalam doa sekarang, kita menghadap kiblat atau menghadap makam Rasulullah? malik berkata: Menghadaplah kearan makam Rasulullah. Karena dengan wasilahnya beliau engkkau dan ayahmu Adam mendapat safaatnya. Allah Swt berfirman:
ی
Ketika mereka menzalimi diri sendiri,
kemudia menghadapmu dan mengharapkan ampunan dari Allah Swt.
Sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan penerima taubat(21)
Redaksi teks Beliau adalah perantara antara kamu dan ayahmu Adam dengan Tuhan, menjadi dalil yang kuat bagi diperbolehkannya bertawasul pada Aulia Allah, bahkan disunahkan.
Darimi dalam shahihnya menukil dari Abu al-Jauza
Masyarakat Madinah tengah mengalami kekeringan, lalu mereka mengadukan kesulitan ini pada Aisyah. Kemudian Aisyah berkata: Lihatlah kuburan Nabi Saw dan (dengan penglihatan kalian) buatlah lubang/jendela hingga sampai kelangit sehingga tidak lagi tabir dan penghalang antara kalian dengannya (minta kepada Tuhan supaya dia memberi safaat).
Mereka pun pergi dan melaksanakannya.Hasil dari tawasul ini langit menjadi terbuka, rumput-rumput menghijau, onta-onta (karena banyaknya rumput) menjadi gemuk, sehingga karena terlalu gemuk. Akhirnya tahun itu dinamakan tahun gemuk.(22)
Berbagai argumentasi yang sama selain itu terdapat dalam kitab-kitab riwayat. Seluruhnya menjelaskan kebolehan bertawasul kepada Nabi Saw setelah wafat beliau. Jika tawasul kepada Rasulullah Saw dibolehkan, berarti bukan termasuk perbuatan yang haram dan syirik. Tawasul kepada para Imam as, para malaikat dan kepada orang-orang solehpun diperbolehkan. Karena kalau perbuatan ini terpolusi oleh syirik, walaupun kepada Nabi Saw haram dan terlarang. Kalau perbuatan ini diperbolehkan maka lazimnya tawasul tidak mesti hanya kepada Nabi saja, tetapi juga semua hamba-hamba Tuhan yang soleh.
Kamal : Aneh! Tidak satupun dari riwayat yang disebutkan, sampai sekarang tidak pernah saya lihat dan saya dengar.
Muhammad : ketika merujuk kepada kitab-kitab hadis, Anda akan menyaksikan ratusan bukti dibolehkannya tawasul kepada Nabi Saw. Apa yang saya katakan, hanya setetes setetes embun dibandingkan dengan luasnya lautan. Nampaknya anda tidak banyak mengkaji hadis dan sejarah orang-orang shaleh terdahulu.
Kamal : Sebenarnya saya sangat berminat mengkaji teks-teks hadis dan kitab-kitab sejarah. Namun karena banyaknya pekerjaan saya jadi tidak sempat melakukan hal itu.
Muhammad : Dari sedikit apa yang Anda kaji dalam masalah hadis, apakah benar demikian ucapan Muhammad bin Abdul Wahab yang mencela orang-orang syiah dan semua kaum muslimin dengan menfitnah mereka telah syirik? perbuatan ini tidak baik, dan kalau anda izinkan tanpa ditutup-tutupi saya ingin menyampaikan sesuatu.
Dalam keadaan membaca, dengan terbuka Kamal berkata : katakanlah apa yang ada dalam hati anda. Kita berdua berteman, dengan ini saya dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Anda ketahui.
Muhammad : Saya kira Anda tidak seperti orang-orang kafir Quraisy, dimana penyembahan berhala nenek moyangnya, mereka jadikan alasan dengan berkata: Sesungguhnya kami dapatkan nenek moyang kami berada dalam satu umat dan kami mengikuti jejak-jejak mereka.(23) Dan mereka tetap dalam penyembahan terhadap berhala. Apakah Anda tahu kenapa Tuhan mencela mereka? Mereka dicela karena tidak mendengarkan perkataan Nabi Saw. Sehingga mereka tidak mendapatkan manfaat dari beliau dan tetap bersi keras dalam penyembahan berhala.
Saya berharap Anda tidak mengikuti dengan buta perbuatan yang telah dilakukan nenek moyang terdahulu. Tetapi hendaklah Anda mencari kebenaran lewat berfikir.
Dengan mengkaji kitab-kitab hadis Anda akan mendapatkan perbedaan antara pendapat kelompok yang menyatakan syirik dan haramnya tawasul kepada para Wali Allah swt. serta pendapat segenap kaum muslimin yang memperbolehkannya. Apakah hal ini Anda terima ?
Kamal : Ya Nqampaknya dalam hal ini, kebenaran berada pada orang-orang Syiah dan kaum muslimin lainnya. Lalu, apa yang harus saya lakukan terhadap celaan saya kepada orang-orang syiah ?
Muhammad : Mintalah pengampunan dari Tuhan dan dibarengi dengan terus mencari kebenaran, hingga Tuhan mengampunimu. Kajilah apa yang Anda peroleh tentang keyakinan orang Syiah sehingga yakin akan kebenaran atau kebatilannya.. Tinggalkanlah sikap fanatik buta terhdap mazhab, karena Rasul Saw pernah bersabda: Setiap taassub ( yang bukan pada tempatnya ) tempatnya adalah neraka jahanam.
Kamal : saya akan melakukannya. Terima kasih, Anda telah mencerahkan saya.

Ziarah Kubur
Jamal : Mengapa kalian melontarkan perkataan tanpa dalil, wahai orang Syiah ?
Jawad : Ucapan yang mana ?
Jamal : Yaitu, kalian pergi ziarah ke kuburan Nabi Saw, para Imam kalian serta orang- orang shaleh.
Jawad : Apakah Anda melihat kesalahan dalam hal ini ?
Jamal : Perbuatan ini haram dan termasuk syirik kepada Tuhan.
Jawad : Saya heran dengan Anda, kenapa berbicara seperti orang-orang yang tidak paham! Saya tidak menyangka orang seperti Anda tanpa didasari argumentasi menyerang pandangan lain, sekedar mengikuti pendapat yang fanatik. Namun bagaimanpun, saya menghormati Anda.
Jamal : Menurut Anda, apakah ucapanku keluar dari fanatik madzhab yang tidak berdasar?
Jawad : Jelas, bukankah begitu.
Jamal : Bagaimana Anda bisa sampai menyimpulkan seperti ini ?
Jawad : Untuk lebih jelasnya ucapan saya, kita jadikan kajian tentang ziarah ahli kubur ini menjadi pembahasan kita. Sehingga jelas siapa yang benar dan siapa yang berada dalam fanatisme tanpa alasan.
Jamal : Saya siap, karena saya tahu bahwa ziarah kubur adalah syirik.
Jawad : Bagaimana Anda melihatnya sebagai syirik ?
Jamal : Karena mirip perbuatan orang-orang musyrik dalam menyembah berhala.
Jawad : Dari sisi ini, Anda memasukannya kepada syirik.
Jamal : Ya, mereka seperti halnya orang-orang musyrik yang berkumpul disekitar berhala, merekapun berkumpul disekitar kuburan.
Jawad : Berarti berkumpulnya mereka di sekitar kuburan, menyebabkan ziarah kubur menjadi terpolusi oleh syirik ?
Jamal : Ya
Jawad : Berarti, semua orang muslim dan semua masyarakat musyrik, termasuk anda !.
Jamal : Kenapa, karena apa ?
Jawad : Apakah Anda telah pergi haji ?
Jamal : Ya, berkat taufik Tuhan.
Jawad : Apakah anda shalat di Masjid haram ?
Jamal : Ya berkat barokah-Nya.
Jawad : Anda pasti melihat kaum muslimin ketika shalat mereka menghadap Kabah. Sebagian dari mereka berdiri menghadap barat, sebagian menghadap selatan dan yang lain menghadap utara.
Jamal : Ya, saya melihatnya dan saya juga melakukannya ketika hendak shalat menghadap Kabah. Karena shalat diwajibkan untuk menghadap Kabah, kalau tidak maka shalanya batal.
Jawad : Oleh sebab itu semua kaum muslimin musyrik termasuk anda.
Jamal : Kenapa ?
Jawad : Karena menghadap Kabah ketika ibadah seperti menghadapnya para penyembah berhala ke berhala-berhala. Dengan perbedaan bahwa mereka ketika menyembah berhala, menghadap berhala buatan mereka, sementara anda dalam keadaan seperti itu anda menghadap rumah yang terbuat dari batu.
Jamal :Ada perbedaan besar antara menghadapnya saya ke Kabah dengan menghadapnya para penyembah berhala ke berhala.
Jawad : Apa perbedaannya ?
Jamal : Saya dan kaum muslimin dalam keadaan shalat, menghadap Kabah, bukan berarti kita menyembah Kabah sebagai ganti Tuhan. Namun dengan tujuan menjalankan perintah Allah. Adapun para penyembah berhala bertujuan menyembah berhala sebagai ganti Tuhan. Mereka menyembah berhala dan berdiri ke arahnya ketika ibadah. Dengan alasan ini perbuatan mereka termasuk syirik. Namun kami, karena menghadap Kabah dan menjalankan perintah Ilahi, tidak termasuk syirik. Perbedaan ibadah kami dengan ibadah mereka, jauh sekali seperti langit dengan bumi.
Jawad : Dengan alasan ini, adanya kesamaan tidak menjadikan sesuatu tindakan disebut syirik. Kalau tidak begitu, perbuatan Anda juga termasuk syirik, karena memiliki kesamaan dengan perbuatan para penyembah berhala. Penyebab para penyembah berhala termasuk syirik adalah maksud dan niat mereka menyembah berhala, bukan perbuatan yang mereka lakukan. Di sisi lain, karena menghadap Kiblat, anda tidak terhitung musyrik. Karena ketika menghadap Kabah anda tidak bermaksud menyembahnya ?
Jamal : Begitulah.
Jawad : Kami orang Syiah dan kaum muslimin lainpun ketika menziarahi kuburan Nabi Saw, para Imam as. dan orang-orang shaleh sama sekali tidak memiliki maksud menyembah mereka. Kalaupun perbuatan kami dibandingkan dengan perbuatan orang-orang musyrik, hanya ada kemiripan dengan perbuatan mereka saja. Sekedar kemiripan tindakan yang tidak diniatkan untuk menyembah selain Tuhan. Maka ziarah kubur tidak haram dan tidak juga syirik, sebagimana dalam hadis disebutkan: Setiap perbuatan dinilai berdasarkan niat (baik dan buruknya)(24)
Atas dasar ini suatu perbuatan yang dilakukan dengan niat menyembah selain Tuhan adalah syirik Jika niat ini tidak ada, maka perbuatan tersebut diperbolehkan. Sebagai contoh, jika Anda melakukan shalat sementara ada berhala di depan Anda. Jika shalat tersebut Anda lakukan dengan niat menyembah berhala, maka Anda dikatakan musyrik. Sebaliknya, jika shalat Anda niatkan untuk Tuhan dan bukan karena berhala, tidak diragukan lagi shalat anda sah dan dengan perbuatan ini Anda tidak disebut musyrik.
Mendengar itu, Jamal berfikir sejenak,
Jamal berkata : Semua yang Anda katakan benar, saya memohon kepada Tuhan agar menjadikan Anda sebagai tempat bersandar; karena telah menjelaskan pada saya sesuatu yang penting karena fanatik madzhab. Sekarang saya punya satu pertanyaan.
Jawad : Tanyakanlah !
Jamal : Dari apa yang saya tangkap, ziarah kubur tidaklah haram dan boleh. Tetapi apa rahasia yang ada sehingga kalian orang Syiah memiliki perhatian besar kepada perbuatan ini dan apa dalilnya ?
Jawad : Karena ini adalah sunah yang ditekankan.
Jamal : Apa perbuatan ini termasuk sunah ?
Jawad : Ya, Penekanan terhadap perbuatan ini sangat besar.
Jamal :Adakah hadis yang menjelaskan disunahkannya ziarah kubur Nabi Saw dan kubur orang-orang shaleh ?
Jawad : Ya, selain dari riwayat yang banyak, perbuatan Nabi Saw serta sejarah kaum muslimin sejak masa munculnya Islam sampai sekarang
Jamal : Tolong Anda utarakan kepada saya !
Jawad : Saya akan menyebutkan beberapa di antaranya:
1. Dalam satu riwayat disebutkan: Nabi mulia Saw sering pergi menziarahi kuburan para syuhada uhud .(25)
2. Juga riwayat yang menjelaskan bahwa beliau juga selalu menziarahi kuburan Baqi.
3. Dalam sunan Nasai, sunan Ibnu Majah dan Ihya al-ulum Abu Hurairah dari Nabi Saw dinukilkan berkata:berziarahlah kuburan kalian, karena ia akan mengingatkan kalian kepada akhirat .(26)
4. Dinukil dari Abu Hurairah, Nabi Saw pergi berziarah ke kuburan sang ibu ( Aminah binti wahab), beliau menangis di samping kuburan sang ibu dan orang-orang di sekitarnyapun ikut menangis. Pada waktu itu beliau bersabda: Berziarahlah kalian ke kuburan karena ia akan mengingatkan kalian kepda akhirat .(27)
5. Dalam teks-teks hadist, banyak riwayat yang dinukil dalam bab cara berziarah kubur, di antaranya:Setiap yang pergi ziarah ke Baqi hendaklah ia membaca; Assalaamu alaikum ahla diyar min al-muminin wa al-muslimin .(28)
Dari apa yang telah dinukil, disunahkan menziarahi kubur orang-orang shaleh dan kaum muslimin. Dan juga banyak riwayat tentang ziarah kubur Nabi Saw yang akan kita singgung :
1. Daruquthni, Ghazali, dan Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:
Barang siapa yang menziarahiku maka safaatku wajib baginya (29)
2. Diriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:Barang siapa yang menziarahiku di Madinah maka aku menjadi syafi (yang memberi safaat) dan saksi baginya di hari kiamat .(30)
3. Nafi menukil dari Umar, bahwa Nabi Saw. bersabda:Barang siapa yang pergi haj,i tetapi tidak menziarahiku maka dia telah meremehkanku .(31)
4. Abu Hurairah menukil dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda:Barang siapa yang menziarahiku setelah meninggalku, maka dia seperti menziarahiku ketika aku hidup .(32)
5. Ibnu Abbas meriwayatkan dari Rasulullah Saw: Barang siapa yang pergi haji dan datang ke mesjidku untuk menziarahiku, maka baginya dua haji yang mabrur .(33)
Masih banyak riwayat yang menjelaskan akan disunahkannya berziarah ke kubur Nabi Saw. dan kubur muminin yang shaleh.
Sekarang, bagaimana dengan ucapan Nabi Saw: Barang siapa yang pergi haji akan tetapi tidak berziarah kepadaku berarti telah meremehkanku,(34) Bukankah menjadi argumentasi disunahkannya ziarah Nabi Saw? bukankah kalimat safaat ku baginya adalah wajib (35) menjadi argmentasi disunahkannya menziarahi makam Nabi Saw ?
Bagaimanapula dengan sabda beliau, berziarahlah kalian ke kuburan karena ia akan mengingatkan kalian kepada akhirat ,(36) bukankah merupakan perintah untuk berziarah ? Maka, jika perintah ini bukanlah menunjukan akan wajibnya ziarah, akan tetapi tidak diragukan ini menunjukan kepada sunah?
Jamal : Di mana riwayat-riwayat tersebut dinukil ?
Jawad : Berbagai kitab hadis dipenuhi dengan riwayat-riwayat seperti ini. Jika Anda mengkaji pasti akan menemukanya
Jamal : Sampai hari ini, saya belum pernah menbaca dan mendengar satupun dari riwayat ini.
Jawad : Apakah anda pernah membaca shahih bukhari ?(37)
Jamal : Saya tidak memiliki kitab ini.
Jawad : Apakah anda pernah membaca shahih muslim ?(38)
Jamal : Kakek saya memilikinya, akan tetapi setelah wafat kitab ini dibawa paman saya.
Jawad : Sunan Nasai(39) bagaimana ? Apakah anda pernah membacanya ?
Jamal : Ini kitab seperti apa lagi ? dan berhubungan dengan masalah apa ?
Jawad : Kitab hadis.
Jamal : Tidak, saya belum melihat kitab itu.
Jawad : Terus kitab hadis apa yang telah Anda baca ?
Jamal : Dengan sangat, saya mohon maaf. Saya adalah mahasiswa kedokteran. Selama ini saya hanya berupaya untuk berhasil dalam pelajaran. Walaupun saya suka membaca hadis, tetapi saya tidak memiliki banyak waktu untuk hal itu.
Jawad : Anda belum membaca hadis, belum mengkaji kitab dalam masalah ini dan juga tidak punya pengetahuan tentang ilmu hadis. Lalu bagaimana Anda mengizinkan diri untuk menghukumi ziarah Nabi Saw. dan para Imam as. ? Anda sama sekali tidak mengetahui dasar hukum syiriknya menziarahi kubur?
Jamal : Sampai sekarang setiap yang saya, bapak, kakek dan temen saya dengar tentang ziarah kubur, hanya menghukumi para penziarah kubur, belum sampai ke telinga saya satupun dari masalah ini dan riwayat-riwayat yang telah anda paparkan.
Jawad : Manusia untuk sampai kepada kebenaran dan mengetahuinya, hendaklah selalu berdasarkan pencarian. Sehingga ia memiliki akidah, perbuatan dan ucapan yang kuat dan mendasar. Tidak cukup hanya dengan ucapan orang lain yang mungkin salah dan mungkin juga benar.
Jamal : Sekarang saya menerima bahwa ziarah kubur Nabi, para Imam as serta kubur orang-orang mumin adalah perbuatan baik. Bahkan merupakan sunah yang ditekankan.
Jawad : Saya berharap sesuatu dari anda.
Jamal : Saya siap mendengar apa saja, silahkan !
Jawad : Saya sangat berharap dari anda untuk tidak mengikuti berbagai ucapan maupun isu begitu saja. Kecuali, lewat pembuktian kebenaran yang diutarakan.
Jamal : Dahulu, saya menerima bahwa ziarah kubur adalah syirik. Tetapi sekarang lewat berbagai argumentasi logis dan hadis, mengetahu bahwa hal itu termasuk sunah yang ditekankan. Saya juga sampai kepada kesimpulan untuk mengkaji terlebih dahulu masalah-masalah serupa yang menjadi perselisihan. Maka untuk selanjutnya, minta petunjuk dari Anda. Masalah yang menjadi pembahasan kita ini, akan saya bahas dengan orang tua. Sehingga beliaupun dapat mengikuti jalan yang benar dan berjalan dalam hidayah-Nya
Jawad : Saya berterima kasih kepada Anda.
Jamal : Saya juga berterima kasih karena Anda telah memberikan saya petunjuk.
 

Nikah Mutah
Abdullah : Sementara kaum muslimin sepakat akan keharaman nikah mutah, mengapa Anda orang Syiah memperbolehkannya ?
Ridha : Berdasarkan ucapan Umar bin khatab bahwa Rasulullah menghalalkan dan memperbolehkan nikah mutah. Kamipun menganggapnya boleh.
Abdullah : Memang Nabi Saw bersebda apa ?
Ridha : Jahidz, Qurtubi, Sarkhasi Hanafi, Fakhrurazi dan masih banyak yang lain dari orang-orang terdahulu Ahli Sunnah yang menukil, bahwa Umar dalam khutbahnya berkata: Dua mutah yang sebelumnya pada jaman Nabi Saw telah ada, dan aku larang keduanya dan aku akan menghukum orang yang melakukan keduanya, mutah haji(40) dan mutah nisa (41)
Dalam buku sejarahnya Ibnu khalikan menuturkan bahwa Umar bin khatab berkata: Dua mutah yang diperbolehkan pada jaman Nabi saww. dan jaman Abu Bakar, dan aku larang keduanya .(42)
Apa pendapat anda tentang masalah ini? apakah perkataan umar dua mutah yang telah disebutkan pada jaman Nabi Saw sebagai sesuatu yang halal dan boleh ucapan yang benar ataukah bohong?
Abdullah : Jelas Umar berbicara jujur.
Ridha : Apakah anda punya alasan kenapa mengabaikan ucapan Nabi Saw dan mengambil ucapan Umar?
Abdullah : Larangan Umar bin khatab yang menjadi alasan perbuatan ini.
Ridha : Lantas apa maknanya hadis yang berbunyi, Halalnya Muhammad Saw, halal sampai hari kiamat. Haramnya Muhammad Saw, haram sampai hari kiamat (43) Inilah salah satu masalah yang menjadi kesepakatan para ulama Islam tanpa kecuali.
Abdullah sejenak terdiam kemudian berpaling kearah Ridha.
Abdullah : Ucapan Anda betul, tetapi bagaimana Umar bisa mengharamkan kedua mutah tersebut, apa landasan Umar mengharamkannya?
Ridha : Ini merupakan ijtihad pribadinya. Namun setiap ijtihad yang bertentangan dengan nash, harus di buang dan jangan diterima.
Abdullah : Walaupun ijtihad itu datang dari orang seperti Umar bin Khatab?
Ridha :Walaupun dari orang yang lebih besar dari dia, kita tetap tidak bisa menerimanya. Menurut pendapat Anda, apakah perkataan Tuhan dan Nabi yang berhak diikuti ataukah ucapan Umar?
Abdullah : Apakah dalam al-Quran terdapat ayat yang menjelaskan mutah dan kebolehannya ?
Ridha : Tuhan berfirman:jika kalian telah bersenang-senang dengannya, maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai sebuah kewajiban (44)
Allamah Amini membawakan berbagai sumber yang banyak dari kitab-kitab ahli sunnah seperti musnad Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya. Semuanya menyebutkan sebab turunya aayat berkenaan dengan nikah mutah dan meyakini bahwa itu adalah dalil diperbolehkannya mutah.(45)
Abdullah : Sampai sekarang, dalam masalah ini saya belum mendengar sedikitpun.
Ridha : Dengan mengkaji kitab berharga al-ghadir, anda akan menemukan lebih dari apa yang saya utarakan. Apakah kehalalan Tuhan dan rasul-Nya bisa tersingkirkan dengan pengharaman umar? Lantas, kita ini termasuk umat siapa, umat Nabi Saw ataukah umat Umar ?!
Abdullah : Jelas, kita adalah umat Nabi Saw dan keutamaan Umar pun karena dia adalah umatnya Nabi Saw.
Ridha : Apa yang menghalangi Anda untuk mengikuti ucapan Nabi Saw ?
Abdullah : Kesepakatan kaum muslimin yang membuat saya berpendapat demikian
Ridha : Tetapi masalah ini bukanlah kesepakatan kaum muslimin.
Abdullah : Bagaimana mungkin ?
Ridha : Sebagaimana yang Anda katakan bahwa orang-orang Syiah memperbolehkan nikah mutah. Jumlah orang Syiah sekarang setengah dari jumlah kaum muslimin, kurang lebih satu milliar orang.(46) Sementara kelompok Syiah ini membolehkan dan menghalalkan nikah mutah, bagaimana bisa dikatakan kesepakatan kaum muslimin.
Lebih dari itu, para Imam Masum as yang merupakan keluarga Nabi Saw. sesuai dengan ucapan Nabi Saw, mereka diumpamakan perahunya nabi Nuh as: Perumpamaan Ahlul Baitku bagi kalian adalah seperti perahu nabi Nuh as., barang siapa yang menaikinya (mengikutinya) maka dia akan selamat, dan barang siapa yang menyimpang dia akan tenggelam .(47)
Rasululah Saw juga bersabda:Sesungguhnya aku tinggalkan dua hal yang berharga kitab Allah dan keluargaku ahli baitku. Tidak akan berpisah sampai keduanya bertemu denganku di al-haudl . (48)
Mengikuti Ahlul Bait, merupakan sebab keselamatan dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Sebaliknya, berpaling dari mereka dan mengikuti kepada selainnya mengakibatkan kesesatan. Ahlul Bait membolehkan nikah mutah serta terbukti bahwa hukum ini tidaklah dimansukh (dihapus). Orang-orang syiah pun dalam masalah ini mengikuti mereka dan mengamalkan hal itu.
Dalam sebuah riwayat dari Amiril Muminin as:Seandainya Umar tidak melarang mutah, tidak akan terjadi perzinahan kecuali orang yang bejad . (49)
Ucapan Imam Ali as mengandung arti bahwa pengharaman dan pelarangan mutah oleh Umar, menyebabkan masyarakat tidak lagi mengamalkannya, dan setiap orang yang tidak mampunyai istri, mereka terpaksa melakukan zina.
Kaum mulimin terdahulu memperbolehkan nikah mutah, dimana banyak dari para sahabat dan tabiin serta kaum muslimin yang didukung ayat al-Quran dan Hadis Nabi Saw. Mereka menganggap pengharaman Umar adalah batil. Lantas atas dasar apa pengharaman mutah menjadi kesepakatan pendapat kaum muslimin dan kesepakan seperti apa ?
Disini saya dibawakan sebagian ucapan dari mereka yang menerima nikah mutah
1. Imran bin al-hashin
Dia mengatakan ayat mutah ada dalam al-Quran dan ayat yang lain tidak me-nasikh (menghapus) ayat ini. Rasulullah telah memerintahkan hal ini, kami bersamanya melaksanakan haji tamattu. Setelah wafatnya, beliau tidak pernah melarang kembali tamattu.Tetapi, seseorang (Umar bin Khatab) setelah wafatnya Nabi Saw menlarangnya berdasarkan pendapatnya sendiri.(50)
2. Jabir bin Abdullah dan Abu said khudri
Ia menuturkan Sampai pertengahan khilafah Umar, kami masih melakukan mutah, hingga datangnya kejadian yang menimpa Amru bin harist. Setelah itu, Umar melarang masyarakat melakukan hal ini.
3. Abdullah bin Masud
Ibnu Hazm dalam al-mahalli dan Zarqani dalam syarh al-muatha meyakini bahwa Abdullah bin Masud termasuk orang yang tetap membolehkan nikah mutah.
Para penghafal hadist juga meriwayatkan darinya : Dalam sebuah peperangan kami berada di sisi Rasulullah Saw. Ketiak itu kami tidak bersama istri, lalu mengadu kepada Nabi Saw: Wahai utusan Tuhan, bagaimana kalua kami kebiri diri sendiri ? Beliau melarang melakukannya dan membolehkan untuk nikah mutah. Kemudian beliau membacakan ayat: Janganlah kalian haramkan sesuatu yang telah Allah halalkan buat kalian. (51)
4. Abdullah bin Umar
Ahmad bin Hanbal dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Naim alRaji meriwayatkan seraya berkata: Aku bersama Abdullah bin Umar, ketika ada seseorang bertanya kepadanya tentang mutah, dia berkata: Aku bersumpah demi Tuhan, di jaman Rasulullah Saw kami tidak melakukan zina(52) ( dan kebutuhan kami, kami selesaikan dengan nikah mutah ).
5. Salamah bin Umayyah bin Khalaf
Ibnu Hazm dalam al-mahalli dan Zarqani dalam syarh al-muathamenukilkan bahwa Salamah membolehkan nikah mutah.
6. Mabad bin Umayyah bin Khalaf
Ibnu hazm mengatakan bahwa Mabad bin Umayyah bin Khalaf berpendapat tentang kebolehan nikah mutah.
7. Zubair bin al-Awwam
Raghib mengatakan bahwa Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas dikarenakan menghalalkan nikah mutah mereka mendapat celaan. Ibnu abbas berkata kepadanya (orang yang mencela) tanyakan kepada ibumu bagaimana ia bergaul dengan ayahmu ? Lalu hal ini pun ditanyakan kepada ibunya, sang ibu menjawab : Kamu lahir hasil nikah mutah.(53)
Cerita ini menurut Zubair dalil yang kuat akan kebolehan mutah.
8. Khalid bin Muhajir bin Khalid Makhzami
Dia duduk disamping seorang lelaki yang menanyakan kepadanya tentang nikah mutah. Khalid menjawab bahwa hal itu diperbolehkan. Ibnu Abi Umrah Anshari berkata kepadanya: Pelan-pelan , kenapa begitu mudah Anda memberi fatwa? Khalid berkata: Aku bersumpah demi Tuhan, sesungguhnya perbuatan ini dilakukan pada jaman para penghulu orang yang bertakwa.
9. Amru bin Harist
Hafidl, Abdurrazaq dalam kitabnyamushannaf mengatakan bahwa Abu al-zubair menukilkan dari Jabir yang berkata: Amru bin harist masuk ke kota kufah dan melakukan mutah dengan seorang budak perempuan. Ketika perempuan tersebut hamil ia pergi menghadap Umar, lalu Umar menanyakan kejadian ini kepada Amru. Semenjak itu Umar melarang nikah mutah(54)
Selain mereka terdapat beberapa lagi diantaranya:
1. Ubai bin Kaab
2. Rabiah bin Umayyah
3. Samir ( atau Samrah ) bin Jundub
4. Said bin Jubair
5. Thawus Yamani
6. Atha abu Muhammad Madani
7. Sadi
8. Mujahid
9. Zafr bin Ues Madani
Para pembesar di kalangan sahabat yang lain, para tabiin serta kaum muslimin menghukumi bahwa fatwa dan ijtihad Umar ini bertentangan dengan al-Quran dan sunnah.
Ridha : Wahai Abdullah, setelah penjelasan panjang lebar, apakah masih meyakini bahwa pengharaman nikah mutah merupakan kesepakatan kaum muslimin ?
Abdullah : Maafkan saya, semua yang diutarakan adalah apa yang telah saya dengar dari orang lain. Tetapi tentang benar dan salahnya, saya belum pernah mengkaji dan meneliti. Sekarang saya sampai pada satu kesimpulan bahwa setiap masalah hendaklah dikaji dan diteliti terlebih dahulu, sehingga mencapai kebenaran yang jauh dari fanatik mazhab.
Ridha : Apakah Anda menerima kalau nikah mutah itu boleh dan halal ?
Abdullah : Ya, dan saya baru tahu bahwa orang-orang yang mengharamkan nikah mutah hanya mengikuti kehendak dan tuntutan dirinya. Al-quran memperbolehkan hal itu serta ayat tentang ini tidak dinaskh oleh ayat lain. Saya juga mengerti bahwa tidak sekedar Umar, bahkan orang yang lebih besar dari diapun tidak berhak merubah hukum Tuhan. Saya sangat heran, bagaimana dan atas dasar apa Umar memberikan fatwa seperti ini. Kalau anda berkenan, beritahukan kepada saya kitab yang secara ilmiah membahas masalah ini sehingga bisa menjauhkan dari fitnah.
Ridha : Beberapa kitab itu antara lain al-Ghadir karya Allamah Amini, al-Nash wa al-Ijtihad dan al-Fushul al-Muhimmah karya almarhum Allamah Syarafuddin dan al-Mutah karya ustadz Taufiq Al-fakiki.
Kajilah kitab-kitab ini dengan teliti dan objektif.
Abdullah : Tentu akan saya lakukan dan saya mohon kepada Tuhan untuk memberikan semua kebaikan kepada Anda.
Ridha : Di sini terdapat satu lagi persolan berkaitan dengan Ahli Sunnah yang menerima fatwa Umar yang melarang nikah mutah.
Abdullah : apa persoalannya ?
Ridha : Umar, selain melarang nikah mutah, juga melarang haji mutah. Lalu kenapa Ahli Sunnah membolehkan haji mutah, namun melarang nikah mutah? jika fatwa Umar itu benar, hendaklah keduanya haram. Jika fatwanya salah maka keduanya boleh dan halal.
Abdullah : Apakah Ahli Sunnah menerima kebolehan haji mutah ?
Ridha : Ya, jika mengkaji sumber-sumber tersebut, Anda akan mengetahui hal itu.
Abdullah : Terima kasih.
Subhaana rabbuka rabbi al-izzati amma yashifuun wa salamun ala al-mursalin
wa al-hamdulillahi rabbi al-alamiin.
Sadiq Hasaini Syirazi
 

Kepustakaan
Al-Murajaah
Buku ini berisi surat menyurat tentang konsep imamah Ahlul Bait antara tokoh Syiah Sayyid Abd al-Husein Syarif al-Din dan Salim al-Basyri seorang ulama besar Ahli Sunah yang saat itu menjadi pimpinan Universitas al-Azhar.
Kesimpulan dari perdebatan tertulis kedua tokoh tersebut adalah guru besar al-Azhar ini akhirnya Memilih mahab Syiah Imamiah dan mengumumkan bahwa Syiah dalam keyakinan dan cabang agamanya mengikuti para Imam Ahlul Bait yng menjadi penerus Risalah Rasulullah Saw.
Hakikat al-Syiah al-Itsna Asyariyah (Hakikat Syiah Dua Belas Imam)
Buku ini merupakan penelitian akademis tentang syiah yang dilakukan Dr. Asaad Wahid Qasim. Beliau adalah salah seorang budayawan dari kota Gaza, Palestina. Akhirnya penulis buku ini menyatakan dirinya menerima keimamahan Ahlul Bait dan menjadi pengikut mazhab Syiah.
Buku ini ditulis berdasarkan sumber-sumber rujukan Ahli Sunah. Ketika diwawancarai oleh majalah al-Manbar(55) , Dr. Asad mengatakan:
Ketika merujuk buku shahih Bukhari untuk membuktikan kebenaran Syiah, Wahabi mengeluarkan fatwa kufur.
Dengan adanya peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah Saw lahirlah mazhab kelima sebagai metode shahih
Mereka mengatakan kepada saya dan rekan sejawat bahwa Syiah lebih berbahaya dibandingkan Yahudi. Namun saya telah menemukan kebenarannya.
Terma badi yang berarti setelahku dalam hadis Manzilah(56) menegaskan tentang wasiat Ali dan kekhilafahan sesudahnya.
Akidah mazhab Syiah lebih rasional, aturan hukumnya lebih sesuai dan bangunan akhlak dan spiritulitasnya sangat tinggi.
 

Wa Rakibtu as-Safinah
Buku ini ditulis oleh Marwan Khalifah, seorang peneliti alumni fakultas syariah Yordania. Lewat buku ini, akhirnya beliau memeluk mazhab Syiah. Sebelum menjadi pengikut Syiah terjadi dialog intens antara penulis buku ini dengan rekan sejawatnya yang akhirnya membawa ia meneliti mazhab Ahlul Bait.
Buku ini mengupas kebenaran mazhab Ahlul Bait yang merupakan perwakilan Islam hakiki, kritik terhadap Wahabi dan sistem pendidikan agama Suni serta tema lainnya. Marwan meyakini bahwa sekolah agama Ahli Sunah memerlukan sesutu yang dapat menyelamatkan mazhabnya sendiri agar dapat seirama dengan Islam sebenarnya.
Al-Khudah.... Rihlati min as-Sunah Ila as-Syiah (Perjalananku dari Suni ke Syiah)
Penulis buku ini, seorang jurnalis Mesir bernama Shalih al-Wardani. Dalam buku tersebut ia menuturkan kesulitan yang dialami ketika memilih dan menerima mazhab Ahlul Bait. Dengan memaparkan berbagai argumentasi yang jelas tentang mazhab ahlul Bait sebagai Islam yang diturukan Allah Swt untuk makhluk-Nya.
Al-Wardani menulis buku lainnya yang mengupas tentang sejarah, akidah dan mazhab Islam. Ketika diwawancarai majalah al-Manbar ,(57) beliau menyampaikan beberapa hal antara lain:
Saat ini komunitas Ahli Sunah memerlukan gerakan penyadaran
Pemikiran suni dalam pengorganisasian massa tidak dapat mewujudkan keadilan dan kedamaian.
Melalui pemikiran dan penelitan dalam mazhab Ahli Sunah sampai pada mazhab Ahlul Bait, bukan melalui pemikiran Syiah
Para pemuda yang meyakini Syiah dijauhi oleh keluarganya hingga banyak yang kelaparan.
Syiah menghargai perbedaan pendapat, pintu ijtihad masih terbuka. Selain itu, Syiah tidak pernah sejalan dengan pemerintahan yang tidak benar. Tetapi Ahli Sunah tidak seperti yang dilakukan Syiah.
Budaya Syiah memiliki pemikiran yng tinggi. Selain itu kebebasan berfikir dan bertindak yang lebih baik dari Ahli Sunah.
Limadza Ikhtartu Madzhaba Ahl al-Bait (Mengapa Saya Memilih Alul Bait ?)
Penulis buku ini adalah seorang hakim pengadilan Syiria bernama Syeikh Muhammad Mari Inthaki. Belaiu adalah salah seorang Ulama besar Ahli Sunah Syiria penganut mazhab Syafii. Namun membaca berbagai literatur dan melakukan penelitian akhirnya memilih mazhab Syiah. Karena menurutnya Ahlul Baitlah yang paling memahami Islam dan mufasir hukum Islam yang benar.
Al Hakikat al-dhaiah (Hakikat yang hilang)
Penulis buku ini adalah seoarang ulama besar bernama Syeikh Mutashim Sayid Ahmad. Beliau setelah melakukan penelitian yang panjang, sampai pada sebuah keyakinan bahwa ajaran yang di yakininya benar adalah Ahlul Bait. Inilah yang membawanya menerima mazhab Syiah.
 

Malam-malam di Pishawar
Pishawar adalah salah satu kota di Pakistan, yang menjadi tempat pertemuan antara empat orang dari ulama Sunni dan seorang pengikut Syiah bernama Sayyid Muhammad Musawi Syirazi yang dikenal dengan sultan al-waidzin. Media massa Pakistan mencetak laporan perdebatan antara beberapa ulama tersebut. Hasilnya banyak dari masyarakat yang masuk Syiah. Semua perdebatan ini dibukukan oleh Sultan al-Waidzin dengan judul Shabha-e pishawar
Al- Muwajihah maa Rasulallah wa Alihi (berhadapan dengan Rasulullah dan keluarganya)
Essensi tantangan yang ada antara garis Ahlul Bait as. dengan Bani Umayyah adalah untuk meraih kekuasaan. Pembahasan dari satu kitab yang ditulis oleh seorang jaksa pembela dari yordania bernama Ahmad Husain Yaqub. Pembahasan inilah yang membuat dia menerima madzhab syiah. Dia juga memiliki kitab menarik lain yang membahas Tasyayu wa Tasannun. Dalam wawancaranya dengan majalah al-Minbar (58) dia memaparkan proses memasuki madzhab Syiah, diantaranya :
Seorang berakal serta cendekiawan mana yang membiarkan keluarga Nabi Saw dan mengikuti selain mereka.
Saya berjanji kepada Tuhan akan membela kebenaran Ahlul Bait as. sampai akhir hidup.
Apakah seorang muslim meyakini bahwa Nabi Saw berkorban untuk berhala dan memakan daging dari korban itu? ungkapan seperti ini dinukil dalam kitab Sahih Bukhari.
Saya sampai kepada kesimpulan bahwa orang-orang syiah mengikuti dan membela Ahlul Bait as. bukan karena hawa nafsu. Tetapi karena perintah Illahi dan berdasarkan hukum-hukum syari.
Laqad Ssyayyaani al-Husain as. ( Imam Husain as Telah Mensyiahkanku )
Penulis buku ini adalah seorang wartawan Maroko bernama Idris al-Husaini. Buku ini membahas madzhab Ahlul Bait as, membuktikan kebenaran madzhab ini dan mengikasahkan perjalanannya menuju Syiah serta dengan berani memaparkan kekejaman musuh-musuh Ahlul Bait as. Dalam wawancaranya dengan majalah al-minbar(59) menjelaskan poin-poin penting, diantaranya :
Berikan kepada saya kebebasan berpendapat, maka saya akan membuat semua masyarakat dunia ini menjadi Syiah.
Ahlul Bait as. telah memprediksikan tentang revolusi pers yang sekarang kita saksikan.
Tasyayyu adalah miraj ruh dan pemberi perhatian pada masa depan.
Imam Husain as telah membuat saya menjadi Syiah.Tetapi sampai sekarang saya masih tetap Sunni, dengan perbedaan bahwa saya mengikuti Sunnah murni yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw.
Al-Salafiah baina Ahli al-Sunnah wa al-Imamiah (Salaf menurut Ahli Sunnah dan Imamiah)
Muhammad al-kastiri, seorang cendekiawan Maroko yang telah menerima madzhab Ahlul Bait as dalam buku ini mengkaji dan meneliti kemunculan Salafi dan karya-karya yang menghancurkan Islam serta kaum muslimin. Dia menekankan bahwa pergerakan para Ahli Salaf (Wahabi) selain di tolak oleh madzhab Syiah juga ditolak oleh Ahli Sunnah sendiri.
 

Wawancara dengan Muhammad Shahadah
Muhammad Shahadah merupakan pemimpin jihad Palestina yang menerima madzhab Ahlul Bait as. Dia menganggapnya sebagai madzhab yang terbaik.Walaupun berhadapan dengan penentangan keras dan fitnah, dalam wawancaranya dengan salah satu media lokal diantaranya majalah Saudi al-majalah yang diterbitkan di London, dia memaparkan pengalamannya memasuki madzhab Syiah. Dia juga mengadakan wawancara dengan majalah al-minbar.(60) Diantara petikan wawancaranya :
salah satu yang menarik saya memasuki Syiah adalah kemazluman Imam Ali as.
ketidaktahuan akan Tasyayyu yang membuat saya selama ini berada dalam mazhab Sunni. Mudah-mudahan saya bukan orang yang terakhir yang mengatakan: Akhirnya saya mendapat hidayah (61)
Saya akan berusaha akan menyebarkan madzhab Syiah imamiah di Palestina, dan saya mohon taufik dari Allah swt, supaya berhasil dalam upaya ini.
Saya sampaikan duka kehadapan Imam Mahdi as, semoga teriakan ini sampai
Difa min Wahyi al-Syariah Dhimni Daairah al-Sunnah wa al-Syiah
( Pembelaan Terhadap Syariah dalam Pandangan Sunni dan Syiah )

Kitab ini karya salah seorang cendekiawan Sunni dari Syiria yang bernama Syekh Husain Al-raja. Dalam kitab dijelaskan perjalanan pentingnya dalam menerima mazhab Syiah. Dia merupakan pembesar kelompok kulit putih kaum Sunni di kota Haltheh. Oleh karenanya masyarakat daerah tersebut mengikutinya dan tidak sedikit penduduk kota Helthah menjadi Syiah dan bergabung dengannya. Majalah al-minbar menyusun wawancara dengan dia. Syekh Husain dalam wawancara ini, memaparkan proses bagaimana ia memasuki Syiah, diantaranya :
Setelah empat tahun meneliti dan mengkaji, akhirnya saya mendapatkan kesimpulan bahwa kebenaran bersama keluarga Nabi as.
Salah satu penduduk desa masuk Syiah dan saya pergi menemuinya supaya saya dapat memberikan petunjuk kepada jalan yang benar dan berusaha mengembalikannya kepada mazhab sebelumnya[sunni). Tetapi dia yang menunjukan saya kepada jalan kebenaran yang hakiki.
Ketika saya mendapatkan kebenaran Syiah, saya bertekad walaupun jiwaku berakhir sampai hari kiamat saya akan tetap menjadi Syiah.
Setelah masuk Syiah, saya berdebat dengan pembesar Ahli Sunnah. Dia tidak dapat memuaskan saya. Karena marah dia melepaskan sorban dari kepalanya dan merobeknya lalu pergi.
Saya mendapatkan bahwa mazhab Syiah mazlum sepanjang sejarah

Wawancara dengan Syekh Hasan Syahatah
Syekh Hasan Syahatah seorang cendekiawan besar universitas Al-azhar. Dia menerima madzhab Syiah yang menggemparkan kalangan ulama Sunni Mesir terutama di Kairo. Media banyak menulis tentangnya yang menyebabkan kemarahan masyarakat kepadanya. Akhirnya pemerintah memenjarakan dia dengan tuduhan melewati batas kehormatan sahabat, karena dalam salah satu khutbah Jumatnya syekh Hasan Syahatah menyampaikan kepada masyarakat hakekat yang didapatnya.
Majalah al-minbar mengadakan wawancara dengannya, diantara poin-poin yang dijelaskan oleh syekh Hasan :
Ungkapan persahabatan dalam mengikuti Amirul Muminin as. ditebus dengan harga yang saya miliki telah habis. Inilah yang dapat saya persembahkan kepadanya.
Di Mesir, Asyura dianggap sebagai hari raya, mereka bersenang-senang pada waktu itu; seluruh jiwaku berteriak, bagaimana mungkin di hari terbunuhnya putra Nabi saww. kalian bersenang-senang ?!
Telah dibuktikan dengan jelas bahwa Muawiyah adalah tangan kanannya para penentang. Dengan keadaan seperti ini bagaimana bisa kaum muslimin memanggil muawiyah dengan kata pemimpin dan tuan kita adalah Muawiyah semoga Tuhan menjaganya .


[1] Syeikh Thusi, Ikhtiyah marifat al-Rijal Jilid 1 hal 211, Syadzan ibn Jibrail Qumi, al-Fadhail, Hal 121, Ali Ibn Yunus Amili, Shirath al-Mustaqim, Jilid 1 hal 209, Husein Ibn Sulaiman Hili, al-Mukhtashar, hal 94, Sayyid Hasyim bahrani, Hilaiyah al-Abrar, jilid 2 al 410 Bihar-al Anwar Jilid 27 hal 143, jilid 35 hal 345, 346 )dengan sedikit perbedaan redaksi(. 

[2] Rasulullah bersabda: Ali bersama dengan kebenaran dan kebenaran bersama Ali. Lihat Bahrani, Muhakik, al-Nazhim, jilid 8 hal 512. di tempat lain Rasulullah bersabda:Ali, engkau dan Syiahmu adalah  orang-orang yang benar . Lihat Syeikh Thusi, Akhtiyar Marifat ar-Rijal Jilid 1 hal 211.    

[3]Qs. Al-Baqarah:111

[4] Qs. An-Nahl: 125

[5] Buku ini telah dicetak di berbagai negara.

[6] Shahih Bukhari, jilid 1 hal 128. hadis 328. kitab al-Tayamum, Shahih Muslim jilid 2 hal 9 hadis 5 kitab al-Masajid wa  Mawadhi al-Shalat:,  Sunan Turmudzi, Jilid 2 hal 131 hadis 317, Syeikh Shaduq Man la yahdhuru al-Faqih Jilid 1 hal 155 bab 37 hadis 1, Syekh Har Amili, Wasail as-Syiah jilid 2 hal 969-970 bab 7 hadis 2.

[7] Lihat Muhakik Hili, SyaraI al-Islam jilid 1, Pembahasan yang disunatkan dalam sujud

[8] Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah Saw disebutkan :Anakku Husein akan di makamkan di salah satu kota bernama karbala

[9] Qs.Al-haj:32

[10] Qs.al-Haj:32

[11] Qs. Al-Isra:26-27

[12] Shahih Bukhari Jilid 1hal 3 hadis 1 bab 1 kitab badu al-Wahy Ila Rasulallah, Fakhrurazi, al-Tafsir al-Kabir jilid 4 hal 5 masalah tafsir ayat 112 surat al-Baqarah, Tahdzib al-Ahkam jilid 1 hal 83 bab 4 hadis 67 kitab al-Thaharah aushaf al-Wudhu jilid 4 hal 184 bab 44 hadis 1  

[13] Qs. Qof, (50) :22

[14] Qs. Al-Baqarah:154

[15] Qs ali Imran: 169

[16] Shahih Bukhari Jilid 1 hal 462 bab 85 hadis 1304, Kitab al-Al-janaiz pembahasan siksa kubur .

[17] Sahabat adalah orang yang mengimani Rasulullah, bertemu dengannya dan meninggal dalam keadaan muslim.

[18] Baihaqi, Sunan al-Kubra, Ibn Abi Syabih, al-Mushanif Jilid 7 hal 481, Ahmad Ibn Zaini Dahlan, Sirah.  

[19] Al-Dur as-Saniah hal 18.

[20] Samhudi, Khulashah al-Kalam hal 17, Thabrani, al-Mujam al-Kabir Jilid 9 hal 18.  

[21] Qs. An-Nisa: 64 Lihat pula Khulashah al-kalam hal. 17.

[22]  Sunan Darami, jilid 1, hal. 43-44, bab : Maa akramallah taala binabiyyihi bada mautihi.

[23]  Zuhruf : 23

[24]  Shahih Bukhari 1/3/1, bab 1 ; Tafsir kabir, Fakhrurazi, jilid 4, hal 5,  Masalah 4 dari tafsir ayat  112 Surat Baqarah. Tahdzib al-Ahkam 1/83/67 bab 4 , Shifat al-Wudhu Min Kitab al-Thaharah Wa 4/186/1 bab 44 Niat ashiyam 

[25]  Shahih Muslim, jilid 2, hal. 63  dan sunan Nasai jilid 3, hal. 76.

[26]  Sunan Ibnu Majah jilid 1, hal. 500, bab 4, hadist no 1569; Ihya Ulum ad-din jilid 4, hal. 490.

[27]  Sunan Ibnu Majah jilid 1, hal. 501, bab 48, hadist no 1572,  maa jaa fi ziarati qubur al-musyrikiin. Disana beliau juga menyampaikan satu hadis: berzirahlah kalian ke kuburan karena ia akan mengingatkan kalian kepada kematian.

[28]  Sunan Ibnu Majah jilid 1, hal. 494, bab 36, hadist no 1574, maa jaa fiimaa yuqaalu idza dakhala al-maqabir,  shahih Muslim, jilid 2, hal. 365, bab 35, hadist no 104, maa yuqaalu inda dukhul al-qubur wa ad-dua li ahliha. dan muntakhab kanz al-umal ( hasyiah musnad ahmad jilid 2, hal. 89 ) ada kata:min al-muminin wa al-muminaat

[29]  Ali Bin Umar Daruquthni, sunan jilid 2, hal. 278, hadist no 194, bab al-Mawaaqif, riwayat datang dengan bentuk : man zaara qabri wajabat lahu safaati,  ihya al-ulum jilid 4, hal. 490-491, penjelasan tentang ziarah kubur dan doa untuk mayit ( seperti riwayat yang dibawakan daru quthni ),  Ahmad bin Husein Baihaqi, sunan al-Kubra jilid 5, hal. 254, bab ziarah kubur Nabi saw: man zaaraani kuntu lahu syafiian .

[30]  Ihya al-ulum jilid 4, hal. 491, penjelasan tentang ziarah kubur dan doa untuk mayit, dan  muntakhab kanz al-umal ( catatan kaki musnad ahmad , jilid 2, hal. 392 )  datang dalam bentuk : syahidan wa syafian .

[31]  Kanz al-umal ( catatan kaki musnad ahmad jilid 2, hal. 392 )  dengan kalimat : man hajja al-bayt .

[32]  Ibid

[33]  ibid.

[34]  ibid.

[35]  ihya ulum ad-din , jilid 4, hal. 490-491.

[36]  Sunan ibnu majah jilid 1, hal. 500, bab 47, hadist no 1569.

[37]  Beliau Muhammad bin Ismail , Hafidz aqili berkata: sewaktu Bukhari menyusun kitab shahih, dia memperlihatkannya kepada Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Muin, Ali bin al-Madini dan kepada yang lainnya; semua memuji kitab ini, selain dalam tiga hal, mereka menganggapnya semua shahih.

Nasai menyangkut kitab bukhari berkata: Dari kitab-kitab yang ada tidak ada kitab yang paling baik dari kitabnya Muhammad bin ismail bukhari.

Hakim Nisyaburi berkata : Semoga Allah memberi rahmat imam Muhammad bin ismail, karena telah mendirikan usul hadist dan meletakan batu pertama bagi yang lain. setiap orang setelah beliau melakukan hal ini, maka secara yakin dia telah mengambil manfaat dari shahih bukhari.

[38]  Beliau Muslim bin Hajjaj Qusyairi .  Hafidz, Abu Ali Nisyaburi berkenaan dengan shahih muslim berkata : dibawah luasnya langit, tidak didapat kitab yang lebih shahih dari shahih muslim bin hajjaj.

[39]  Beliau Ahmad bin Syuaib Nasai .  Ibnu Rasyid Fahri berkenaan dengan kitab nasai berkata : kitab nasai adalah kitab paling pertama yang disusun dalam bentuk sunan dan dalam kekuatan nya ia adalah yang terbaik. Kitab beliau adalah kumpulan dua metode dari bukhari dan muslim dan mengambil manfaat dari kitab al-ilal .

[40]  Mutah haji : setelah seseorang selesai melakukan umrah haji tamattu dan keluar dari ihram, sampai datang waktunya melakukan ihram kembali unutk amal-amal haji tamattu, ia diperbolehkan melakukan semua mubah yang dilarang dalam waktu ihram.

[41]  Jahidz, al-Bayan wa al-Tabyin, jilid 2, hal. 223 ;  Tafisr Qurtubi. Jilid 2, hal. 390-391, hadist no 1042 ; al-Mabsuth, kitan haj, bab Qiran dan Fakhrurrazi, tafsir al-kabir, jilid 2, hal. 167 dan jilid 3, hal. 201,202.

[42]  Tarikh Ibnu khalikan, jilid 2,  hal. 359.

[43]  Rasulullah Saw bersabda Halal Muhammad halulun ila yaum al-qiamah wa haramuhu haramun ila yaum al-qiamah Lihat  Sunan Ibnu daud sajestani, jilid 1, hal 6, bab 2, hadist no 12 : tadlimu hadisti rasulillah wa al-taghlidh ala man aaridlihi,  kafii, jilid 1, hal. 5, hadist no 19  dan wasail al-syiah, jilid 18, hal. 124, bab 12, hadist no 47.

[44]  An-nisa : 24.

[45]  R.K. al-ghadir, jilid 6, hal. 229-236.

[46]  Saat ini jumlah kaum muslimin mencapai dua milliard orang, dan setengahnya adalah orang syiah. Anwar Sadat presiden mesir terdahulu, dalam konferensi Islam di Mesir berkata: Sesuai dengan sensus jumlah orang Syiah setengah dari jumlah kaum muslimin.

[47]  Bihar al-Anwar, jilid 10, hal. 111, hadist no 1.

[48]  Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 3, hal. 17, 26 dan 59,  jilid 3, hal. 367.

[49]  Muhammad bin muslim dari Imam Baqir as. dari Jabir bin Abdullah : Kaum muslimin pergi untuk berperang bersama Rasulullah saww. dan pada waktu itu dihalakan bagi mereka nikah mutah, dan setelah itu tidak pernah diharamkan lagi. Ali as. berkata : jika seandainya anaknya khatab ( umar )  { dalam mengambil hukum }  tidak mendahuluiku maka selain orang-orang bejad tidak akan terjadi perzinahan .

R.K. bihar al-anwar, jilid 100, hal. 314, bab 10, hadist no 15,   tafisr bajma al-bayan, jilid 5, hal.9, dengan sanad yang shahih.

[50]  Tafsir Qurtubi, jilid 2, hal. 385, hadist no 1026, dalam kelanjutannya, riwayat ini datang dengan nukilan yang lain : ayat mutah ( mutah haji ) telah ada dalam kitab Allah swt. dan Nabi memerintahkan untuk mengamalkannya serta tidak turun ayat lain yang me-nasikhnya. Nabi juga sampai akhir hidupnya tidak pernah melarang itu, setelah beliau ada seseorang, yang melarangnya. berdasarkan  pendapat sendiri

[51]  Al-Maidah : 87  wa laa tahrimuu thayyibat maa ahallahu lakum Lihat Sahih Bukhari, jilid 5, hal. 1953, bab 8, hadist no 4787.   maa yukrahu min al-tibtali wa al-khashai ( dengan sedikit perbedaan ) ; sahih muslim, jilid 3, hal. 192-193, bab nikah al-mut;ah ;  sunan al-kubra, jilid 7, hal. 200, bab al-syighar ;  al-dar al-manstur, jilid 2, hal. 307, berkenaan dengan tafsir ayat 87 surat al-maidah ( dinukil dari : sembilan dari orang-orang terdahulu [ahli tafsir ] dan para penghafal quran dan hadis serta dari sumber yang lain.

[52]  musnad ahmad, jilid 2 hal. 95.

[53]  Al-muhaadlaraat, jilid 2, hal 94.

[54]  Fath al-baari, jilid 9, hal 141.

[55] Majalah al-Manbar No. 8 Syawal 1421 H q

[56] Lihat al-Kafi Jilid 8 hal 106. Beberapa sumber lainnya  yang sangat banyak

[57] Majalah al-Manbar No. 22, Dzulhijah 1422 Hq 

[58] Majalah al-Manbar No. 10, Dzulhijah 1421 Hq

[59] Majalah al-Manbar No.3 Jumadil Awal 1421 Hq

[60] Majalah al-Manbar No. 7, Ramadhan 1421 Hq.

[61]  Mengisyaratkan kepada kitab Stuma ihtadaitu yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Samawi Tijani yang menceritakan pengalamannya memasuki mazhab Syiah