::.

CABANG AGAMA

::.

Masyarakat dan Sistem Islami

::.

Politik

::.

Islam Menolak Despotisme

::.

Islam dan Asuransi Sosial

::

Contoh Pertama

::

Contoh Kedua

::

Contoh Ketiga

::

Contoh Keempat

::

Contoh Kelima

::.

Ekonomi

::.

Empat Pendapatan Negara

::.

Baitul Mal dalam Islam

::.

Kerusakan sosial

::.

Pengadilan

::.

Kebebasan

::.

Budaya

::.

Kesehatan

::.

Membangun Keluarga

::.

Islam dan Pengaturan Masyarakat

 

CABANG AGAMA

Sebelum memasuki bagian kedua dari pengajaran Islam, terlebih dahulu harus diketahui bahwa prinsip agama (ushuludin) berhubungan dengan pemikiran manusia. Maka, keyakinan terhadapnya harus berdasarakan pada ijtihad. Namun cabang agama (furu ad-din) dengan bidang yang lebih luas karena mencakup semua partikular dari keseluruhan hidup, gerak dan diamnya manusia dari sejak lahir hingga wafat. Maka, pada umumnya tidak semua orang sampai pada tingkatan ijtihad. Oleh karena itu, diperbolehkan bertaklid pada mujtahid yang memenuhi syarat.

Karena cabang agama ini sangat banyak. Maka, kami hanya akan menyebutkan sepuluh yang terpenting dan paling dikenal. Selanjutnya yang lain sedikit akan dikupas dalam pembahasan ini meliputi  antara lain: Shalat, puasa, khumus, zakat, haji, jihad, amar ma’ruf, nahi munkar, tawali dan tabari.

Sepuluh cabang penting agama ini ditambah dengan pembahasan jual beli, nikah dan talak, qishash dan diyat dalam pembahasan risalah taudhih al-Masail akan dijelaskan. Namun pembahasan cabang agama lainnya yang akan dibahas seputar antara lain: masyarakat dan sistem Islam, politik dan ekonomi, militer dan perangkat pertahanan, pengadilan dan pemerintahan, kebebasan, budaya, kesehatan dan lainnya.

 

Masyarakat dan Sistem Islami

Tidak diragukan lagi Islam memiliki program khusus bagi kehidupan masyarakat. Kebahagiaan masyarakat dijamin dengan berbagai aturan praktis dan standar moral serta spiritual. Hingga sebelum lima puluh tahunan yang lalu, ketentuan sosial Islam kurang lebih diterapkan di negara-negara Islam. Kadangkala, beberapa contoh dari peradaban Islam yang sampai di tangan kita cukup menakjubkan.

Islam menjawab semua kebutuhan masyarakat dunia dan menyelesaikan persoalan kemanusiaan dunia. Jika dunia dipimpin pemerintahan Islam secara baik dan benar serta sesuai dengan aturan dan hukum agama. Maka dunia seperti surga, menebarkan kebaikan untuk semua. Dari sini muncul pertanyaan, apakah keyakinan ini ? bagaimana bisa menjawab kebahagian  dan kesenangan masyarakat dunia yang beraneka ragam?  Pada saat manusia menemukan atom dan energi serta kekuatannya begitu menakjubkan disokong dengan rudal dan pesawat angkasa. Maka, rencana perang bintang yang akan melanda. Dalam kondisi seperti ini, apakah Islam bisa mengatur masyarakat dan mampu mengatur dunia? Jika sampai pada kekuasaan, apakah punya kekuatan untuk menyelesaikan persoalan dunia ? Pertanyaan ini memerlukan jawaban yang akan disampaikan pada pembahasan selanjutnya.

Bagaimana Islam mengatur manusia dalam berbagai bidang kehidupan dengan baik dan benar. Bagaimana pula hukum Tuhan dan ketentuannya sesuai dengan situasi dan kondisi politik, sosial dan ekonomi dunia.

 

Politik

Islam memiliki politik yang indah dan membangun dengan motode mengatur kepemilikan berdasarkan kebebasan, melindungi kepentingan umum, keadilan sosial dan menciptakan ketenangan seluruh masyarakat. Dengan mempertimbangkan tujuan dasar hidup dalam timbangan persaudaraan, semua bangsa sama. Karena al-Quran mengatakan bahwa, “Tolong menolonglah dalam  berbuat kebaikan dan takwa. Janganlah bekerjasama dalam dosa dan permusuhan.[1]

Keistimewaan  suku dan ras sosial harus disingkirkan. Karena, semua itu bukan ukuran.  Sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah yang paling takwa diantara kalian.[2]

Politik yang diterapkan para Ma’sumin secara praktis dalam masa kepemimpinan mereka, memiliki tujuan tinggi dan jelas. Masyarakat keluar dari api perpecahan, kemiskinan dan kebodohan yang mencemaskan. Mereka membawa oleh-oleh berupa keamanan bersama, kesejahteraan dan ketentraman masyarakat dalam naungan takwa.

Islam dengan tujuan menjaga hak-hak masyarakat menetapkan bahwa setip orang dari umat merupakan pemimpin sebagaimana disebutkan bahwa, “Setiap kalian, memiliki tanggung jawab masing-masing”. Selain itu disebutkan pula, “Barang siapa yang tidak perduli dengan urusan kaum muslimin lainnya, maka ia  tidak termasuk bagian dari kaum muslimin”. Maka sikap ketidak perdulian seperti, “apa hubungannya denganku” secara jelas  ditolak dalam Islam.

 

Islam   Menolak  Despotisme

Untuk mencegah kezaliman dan despotisme, Islam menolak sistem pemerintahan kerajaan. Selain Maksumin as, pengelolaan negara dilakukan berdasarkan syura dengan suara terbanyak. Dari tangan ke tangan Syura Fuqaha Maraji memiliki kedudukan memimpin syar’i dalam Islam setelah Imam Ma’sum as. Di sisi lain, setiap orang dari ummat Islam bebas memilih, hingga setiap orang yang memiliki syarat dalam struktur Syura Fuqaha Maraji memimpin. Jika tidak, orang lain yang memiliki karakteristik khusus dan Marja Taklid menempati posisi tersebut. Demikian juga, umat Islam bebas untuk membentuk majelis yang berada dalam prinsip-prinsip Islam.

Berbagai aturan umum tersebut pada masa kegaiban dilakukan oleh Fukaha adil dan ulama yang mengetahui dengan baik masalah agama, sosial dan dunia Islam yang diperoleh  melalui jalan al-Quran, para Maksum as, akal, dan ijma para Fukaha.  Hingga mereka dengan sepenuh hati melindungi masyarakat, menerapkan keadilan, menjamin keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimanapun majelis tidak berhak menambah maupun mengurangi berbagai aturan yang telah ditetapkan syar’i. Karena, “Halal Muhammad Saw, halal hingga hari kiamat. Haram Muhammad, haram hingga hari Kiamat ”. Kewajiban majelis dalam Islam adalah menentukan jalan terbaik untuk menerapkan ketentuan syar’i, jika syar’i sendiri tidak menentukan jalannya.

Sebagai contoh, ketentuan syar’i menetapkan bahwa perdagangan di tangan masyarakat. Maka, majelis tidak bisa merubahnya dengan menetapkan hal tersebut berada di tangan negara maupun orang-orang tertentu saja.

Setelah menentukan jalan terbaik, pemerintahan Islam berkewajiban untuk menerapkannya dalam kerangka syar’i. Dengan segenap fasilitas yang memacu pengembangan kebudayaan, pertumbuhan tingkat berpikir serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Islam  dan Asuransi Sosial

Asuransi sosial dalam Islam salah satu harapan manusia modern. Karena, Islam menampilkan harapan fitri manusia ini dalam bentuk yang terbaik dengan mempertimbangkan  semua sisi manusia dan aspek moralitas.

Sejarah tidak secara jelas menyebutkan agama sebelum Islam dan berbagai sistem sesudahnya menawarkan seperti yang ada pada sistem Islam. Bahkan dengan berbagai kemajuan ilmu, terutama dalam sistem asuransi individu dan sosial dunia tidak memiliki sistem asuransi yang sempurna seperti sistem asuransi sosial Islam.

 

Contoh Pertama[3]

Islam, berdasarkan sabda Rasulullah Saw dan Imam Maksum as[4] mengatur sistem asuransi sosial Islam yang memiliki beberapa karakteristik antara lain :

1. Jika seseorang meninggal dunia, maka sedikitpun tidak diambil pajak darinya. Padahal sistem jahiliyah ketika itu bahkan negara modern kini memungut pajak darinya.

2. Jika seseorang meninggal dunia dalam kondisi masih memiliki hutang, atau istri dan anak-anak yang tidak memiliki pelindung serta penghasilan. Seluruh hutang, perlindungan istri dan anak-anaknya menjadi tanggungan pemimpin kaum muslimin dan negara. Selain Islam, sistem ini tidak pernah ada di manapun di seluruh dunia.

3. Pelayanan keuangan yang dilakukan baitul mal muslimin diberikan pada semua masyarakat, untuk mengatasi kesulitan mereka. Pada pembahasan tentang ekonomi, sebagian akan dikupas singkat. Insya Allah.   

 

Contoh  Kedua

Ali Ibn Ibrahim  Qumi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa Rasulullah Saw, berulang kali bersabda:

“Ketika pihak penagih dan peminjam mendatangi salah seorang pegawai pemerintahan yang terkait, dalam kondisi pihak yang berutang tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya. Maka seluruh hutangnya dibayarkan oleh wali kaum Muslimin dari kas baitul mal“[5]

Imam Shadiq setelah menuturkan hadis dari Rasulllah Saw ini, kemudian berkata:

“Penyebab yang menjadikan sebagian besar orang-orang Yahudi masuk Islam adalah perkataan Rasulullah tersebut. Mereka dan keluarganya mendapatkan pelayanan dari asuransi sosial Islam”.[6]

 

Contoh  Ketiga

Syeikh Mufid  dalam kitabnya al-Majalis menuturkan bahwa Imam Shadiq as berulang kali mengatakan:

“Jika seseorang memiliki hutang harta pada yang lain dan pinjaman tersebut tidak digunakan untuk berfoya-foya ataupun tindakan yang menyebabkan dosa. Namun, ia tidak mampu untuk mengembalikan pinjaman tersebut hingga batas yang telah ditetapkan. Maka, ketika seorang pemimpin adil memerintah, hutang orang ini akan dibayarkannya”.

Hal ini berdasarkan pada sabda Rasulullah Saw:

“Jika sesorang meninggal dunia, maka seluruh harta milik ahli warisnya. Barang siapa yang meninggal dalam keadaan berhutang atau tidak meninggalkan sedikitpun harta untuk keluarganya, datanglah padaku untuk kubayarkan seluruh hutangnya dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan perlindungan serta adanya harta yang bisa menghidupi mereka”.

Lalu Imam Shadiq as menambahkan:”

Apa yang dilakukan Rasulullah Saw tersebut, juga menjadi tanggung jawab pemimpin kaum muslimin”[7]

Syeikh Kulaini dan Syeikh Thusi dalam kitab hadisnya menuturkan bahwa  Imam Shadiq as bersabda: ”Pemimpin kaum muslimin harus membayarkan  hutang-hutang kaum muslimin”.[8] 

 

Contoh  Keempat

Syeikh Amili dalam kitabnya Wasail as-Syiah menuturkan bahwa suatu hari Imam Ali as tengah berjalan di salah satu gang di kota Kufah. Ketika itu mata Imam melihat seorang lelaki yang sedang mengemis. Imam Ali as. sedih melihat kejadian itu, lalu berkata pada sekelilingnya:”Apa yang tengah aku saksikan ini ? (sindiran bahwa negara Islam tidak seirama dengan kemiskinan) Masyarakat menjawab:”Ia seorang penganut Kristen yang sudah tua hingga tidak mampu bekerja lagi. Ia juga tidak memiliki harta untuk  menjamin keluarganya, maka dengan mengemis itu dia memenuhi kebutuhan keluarganya”. Mendengar jawaban ini, dengan sedih Imam Ali as berkata: “ketika ia muda kalian pekerjakan dia, tapi setelah tua kalian tinggalkan ?”. Kemudian beliau pergi mengambil sejumlah uang dari baitul mal muslimin untuk mencukupi kehidupan lelaki tua tersebut.[9]

Dalam hadis ini ada beberapa hal penting antara lain :  

1. Dalam negara Islam, kemiskinan tidak boleh ada. Karena Imam Ali as terlihat gelisah ketika melihat seorang pengemis yang miskin.

2. Pemimpin kaum muslimin dan negara Islam berupaya untuk menuntaskan kemiskinan, hingga Imam Ali as sebagai pemimpin ketika itu merasa sedih oleh kemiskinan seorang pengemis dan beliau segera memenuhi kebutuhannya.

3. Hak para pensiun dalam Islam diatur dengan baik dalam asuransi sosial Islam. Hak tersebut tidak diberikan secara kontinyu kepada semua pensiun. Namun, hanya kepada yang membutuhkan.

Sebagai tambahan, seluruh pelayanan asuransi sosial ini diberikan secara cuma-cuma.    

 

Contoh  Kelima

Syeikh Kulaini dalam al-Kafi menukil perkataan Imam Ali as.[10] Ketika Thalhah dan Zubair kalah dalam perang Jamal dan pasukannya mundur. Seorang ibu hamil yang tengah melintas di sekitar itu merasa ketakutan hingga bayi yang bersamanya keguguran. Setelah kematian bayinya, sang ibu pun akhirnya menyusul.

Imam Ali as dan sahabatnya mendekati jenazah ibu dan bayi tersebut. Beliau menanyakan kejadian sebenarnya pada masyarakat yang tengah berada di sana. Masyarakat menjawab: “Wahai Amirul Muminin, wanita ini tengah mengandung. Ketika pasukan mundur, karena ketakutan wanita ini meninggal dunia.”

Imam kembali bertanya: “Siapa yang terlebih dahulu meningal dunia?”. Salah seorang menjawab:” Pertama kali bayi itu, kemudian ibunya”.

Seketika Imam Ali as, memerintahkan untuk mencari suami dari wanita yang juga ayah dari bayi tersebut. Kemudian  Imam Ali menyerahkan  sejumlah uang kepada laki-laki itu. Dua pertiga sebagai diyat bayi itu dan sepertiga lagi untuk diyat wanita tersebut. Diyat perempuan dibagi dua, sebagian untuk suami dan sebagian lagi diserahkan kepada ahli waris lainnya. Sedangkan diyat bayi dibagi di antara ahli warisnya.

Lalu, diyat wanita yang berjumlah dua ribu lima ratus Dirham diberikan kepada suaminya sebagai warisan. Sebagian lagi diberikan kepada ahli waris dari pihak perempuan, karena wanita ini tidak memiliki anak kecuali bayi yang telah mati tersebut.

Setelah menceritakan peristiwa ini, perawi menuturkan:”Imam Ali, semua diyat ini dibayarkan dari baitul mal Basrah”.

Baitul mal dalam Islam digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenuhi hak mereka. Maka, dalam Islam hak tersebut bukan milik perorangan maupun kelompok. Namun, hak milik seluruh masyarakat. Hal ini, menjadi pondasi yang baik dalam pelayanan asuransi sosial bagi seluruh masyarakat.

 

Ekonomi

Sistem ekonomi Islam menata undang-undang Islam berdasarkan kebebasan individu dan masyarakat yang meliputi keadilan sosial dan individu, penyelesaian perbedaan kelas dan hubungan ekonomi salim dengan prinsip keyakinan berdasarkan timbangan akhlak islami. Islam mempersembahkan format ekonomi terbaik kepada dunia.

Penimbunan harta seperti yang diakui dalam sistem  Kapitalisme, maupun penghilangan hak individu pada sistem sosialisme tidak dibenarkan dalam Islam. Islam menghormati keberadaan individu dan masyarakat. Kepemilikan pribadi yang berasal dari kerja keras seseorang melalui berbagai usaha syar’i yang bukan haram diakui keberadaannya. Karena program ekonomi Islam bersandar pada akhlak. Setiap orang harus melakukan kewajiban syar’inya masing-masing sesuai dengan ketentuan hakim syar’i. Secara singkat, akan kami jelaskan empat kewajiban ekonomi bagi tiap individu yang harus diserahkan masing-masing kepada hakim syar’i.

 

Empat Pendapatan Negara Islam

Khumus

Khumus adalah seperlima atau dua puluh persen dari kelebihan pendapatan setiap orang, setelah dikurangi biaya hidup selama setahun. Khumus diserahkan kepada hakim syar’i yang tidak lain adalah Marja Taklid. Selain itu, kewajiban membayar khumus juga berlaku pada barang tambang, harta karun, tercampurnya harta yang halal dan haram, ghanimah perang, harta yang diperoleh dari sesuatu yang tenggelam di laut dan tanah khusus yang dijelaskan lebih jauh dalam buku fiqih.

 

Zakat

Zakat hanya berlaku pada beberapa jenis barang dan hewan tertentu saja diantaranya gandum, ju (sejenis gandum), kurma, kismis, emas, perak, unta, sapi dan kambing.

Nisab zakat gandum, ju, kurma dan kismis sebesar 847 kg. Sedangkan zakat yang harus dikeluarkan terdiri dari tiga bentuk antara lain:

1. Jika tanah pertanian tersebut menggunakan air hujan maupun sungai, maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar 10 %

2. Jika menggunakan pompa atau timba maupun alat bantu lainnya, maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar 5 %

3. Jika menggunakan keduanya, maka zakat yang harus dikeluarkan sebesar 7,5 %.      

Nisab emas sebesar 15 misqal, sedangkan nisab perak sebesar 105 misqal. Zakat yang harus dikeluarkan keduanya sebesar 2,5 %.

Unta, sapi dan kambing ketika memenuhi nisab dengan ketentuan tertentu, maka wajib dikeluarkan zakatnya. 

 

Kharaj

Tanah Kharaj merupakan tanah kaum muslimin yang diperoleh melalui perang dengan kaum kafir. Pemerintahan Islam memperoleh hasil dari tanah tersebut ketika menyewakannya kepada para petani, berdasarkan kesepakatan yang disetujui hakim syar’i dan kerelaan para petani.

 

Jizyah

Komunitas non muslim yang hidup dalam pemerintahan Islam mendapatkan perlindungan dan keamanan. Maka, mereka diwajibkan mengeluarkan Jizyah kepada pemerintahan Islam.  Namun khumus dan zakat tidak merekan keluarkan.

Selain dari keempat pendapatan negara tersebut, pemerintahan Islam tidak diperbolehkan mengambilnya dari masyarakat.   

 

Baitul Mal Dalam Islam

Dengan memperhatikan peran Islam dalam melindungi kaum tertindas, negara Islam membentuk baitul mal. Karena dalam setiap masyarakat terdapat orang–orang yang cacat, sakit, pengangguran, yatim piatu, tuna wisma dan lainnya yang perlu mendapatkan perlindungan dari negara Islam melalui baitul mal.

Baitul mal selain berkewajiban memenuhi kebutuhan masyarakat Islam dalam segala segi dengan menyediakan berbagai pasilitas bagi kemajuan masyarakat seiring perkembangan masa. Baitul mal juga harus mengupayakan terciptanya atmosfer yang memadai bagi pembangunan dalam bidang pertanian, industri dan bidang lainnya. Sehingga, masyarakat Islam dapat mandiri dan tidak menjadi pengemis pada negara lain.

Selain berbagai hal tersebut, Baitul mal bertanggung jawab membiayai penyebaran kebudayaan Islam di tengah-tengah masyarakat, serius dalam menangani masalah kesehatan publik, penyediaan fasilitas kebersihan, terjaminnya kesehatan masyarakat, memenuhi kebutuhan ekonomi, penanganan personal dalam dalam pernikahan, modal untuk bekerja, tersedianya tempat kerja yang memadai, perumahan, apotik, rumah sakit, pasilitas perjalanan, bantuan pendidikan dan aspek lainnya yang menjadi tanggung jawab baitul mal. Pihak yang membutuhkan bisa langsung menuju baitul mal untuk memenuhi kebutuhannya. Pengeluaran Baitul mal dan anggaran negara Islam lainnya diperoleh oleh sumber-sumber pendapatan negara. Mungkin saja kita akan mengatakan bahwa berbagai sumber pendapatan tersebut tidak cukup untuk memenuhi pengelolaan negara. Dalam menjawab hal ini, sebuah hadis dari Imam Shadiq as yang pernah mengatakan bahwa,”Jika ukuran dari pendapatan syar’i tersebut tidak mencukupi, Tuhan mewajibkan lebih banyak dan lebih beragam”.

Dalam pemerintahan Islam, para pegawai bertugas melayani masyarakat. Sebaliknya kebanyakan kantor yang berlaku saat ini di berbagai negara, sekedar rutinitas dari berbagai konsep yang sama sekali tidak dapat memenuhi tuntutan masyarakat. Bahkan menjadi penghalang ummat dari kebebasan melakukan tindakan logis dan syar’i. Pada pemerintahan Islam hal ini jelas diharamkan. [11]

Dalam pemerintahan Islam sebagian besar tugas-tugas publik negara, dilakukan oleh masyarakat secara bebas untuk kepentingan publik. Kesimpulannya pengeluaran anggaran negara diperketat. Sedangkan dana simpanan negara serta partisifasi publik ditingkatkan dan diperluas. Hal ini dikelola melalui berbagai bank khusus yang sesuai dengan hukum Islam.   

Roda ekonomi berjalan dengan sehat karena pada bank-bank Islam tidak terdapat riba. Pinjaman yang diberikan bank pada seseorang tidak dikenai tambahan, kecuali hanya melalui pendapatan syari seperti mudharabah dan lainnya. Relasinya tidak seperti keterkaitan antara bank, pedagang, petani dan pengusaha.

Bank Islam juga bertugas dalam lalu lintas tranfer uang, gadai, perdagangan dengan dana yang tersedia, jual beli akta dan cek jangka panjang, serta gaji pegawai. Jika terjadi defisit pada bank, maka baitul mal bertugas menjamin keperluan tersebut.

 

Militer dan Perangkat Pertahanan

Militer dan perangkat pertahanan dalam Islam diungkapkan dengan bahasa yang Indah. Pengabdian tentara dalam Islam dilakukan secara sukarela dan bukan paksaan, kecuali ketika munculnya kondisi darurat berdasarkan keputusan Syura Fukaha Maraji. Oleh karena itu, pemerintahan Islam harus memperhatikan areal yang memadai dengan berbagai peralatan militer yang mencukupi untuk membentuk berbagi pusat pelatihan militer bagi masyarakat. Sehingga masyarakat dari berbagai tingkatan dapat menjangkaunya. Dengan metode yang relatif mudah, seluruh masyarakat mendapatkan pendidikan militer. Sehingga dengan sendirinya mereka mengetahui berbagai cara mempertahankan diri. Dengan demikian, dari sisi anggaranpun akan mengurangi beban pemerintah. Di sisi lain, seluruh bangsa bergerak bersama dalam masalah yang sangat krusial ini. Merekapun tidak perlu meninggalkan kehangatan keluarga, pekerjaan ataupun pendidikan.

Islam harus menyediakan dan membuat berbagai peralatan perang dan pertahanan untuk melindungi dan menjaga kehormatan Islam dan kaum muslimin. Sebagaimana disebutkan dalam al-Quran, “Persiapkanlah apa saja yang bisa dilakukan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh”.[12] Namun, Islam pada dasarnya adalah agama damai bukan agama perang. Dalam hal ini al-Quran menuturkan, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah dalam kedamaian dan keamanan”.[13] Islam selamanya tidak pernah menyerang terlebih dahulu. Dengan segenap kekuatan dalam menciptakan kedamaian dan keamanan baik di dalam maupun di luar negeri. Setiap negara yang membuat perjanjian damai dengan negara Islam, disambut dengan tangan terbuka. Sebagaimana firman Allah dalam al-Quran, “Ketika meraka bersiap untuk menjalin perdamaian, maka terimalah perdamaian tersebut”.[14] Islam mempersembahkan kedamaian dan ketentraman bagi dunia.

 

Kerusakan Sosial

Dalam menjamin keamanan masyarakat, menciptakan kedamaian dan ketentraman hidup, Islam tidak melihat hanya pada permukaannya saja. Namun, memasuki inti persoalan yang paling mendasar. Untuk menghilangkan berbagai kerusakan dan penyakit dalam masyarakat, Islam melacak sampai pada sebab utama dari berbagai kriminalitas yang disebabkan kemiskinan, kelaparan, kebodohan, tidak berbudaya, kecenderungan seksual, dendam, permusuhan dan berbagai masalah kejiwaan dan sosial lainnya.

Islam mengatasi kemiskinan dengan cara membuka lapangan kerja, melakukan pembinaan terhadap para  penganggur ke jalan keselamatan bisa menghalangi ke arah kehancuran dan kerusakan sosial. Dengan memberantas konsumsi dan penyebaran minuman keras, membuat pusat-pusat kesejahteraan dan berbagai sarana olahraga, wisata, serta melindungi dan membimbing para pemuda dari penyalahgunaan narkotika dan psikoterapika.

Pendidikan dan  pembinaan yang benar terhadap para pemuda dan pemudi pada masa pertumbuhan mereka dengan akhlak terutama menjaga hijab serta mencegah meluasnya kerusakan moral. Karena hal tersebut seringkali kurang mendapat perhatian. Dengan menerapkan metode hidup yang benar, akar kecemasan dan kekhawatiran dari berbagai depresi dan penyakit kejiwaan bisa diatasi. Sekaligus hal tersebut mencegah semakin menurunnya standard akhlak masyarakat. Prinsip mendasar untuk mengatasi berbagai penyakit seperti dendam, iri hati dan permusuhan adalah dengan budaya memaafkan.

Masalah ekonomi juga bisa diatasi dengan peran baitul mal. Sejarah telah membuktikan hal ini. Karena dalam jangka waktu empat kurun dari masa pemerintahan Islam yang menguasai setengah dunia, tidak lebih dari enam orang saja yang dikenai sanksi karena mencuri.[15]

Di sisi lain salah satu keistimewaan hukum Islam adalah penanganan yang cepat dan meminimalkan penyebaran kriminalitas dengan tujuan dalam pemerintahan Islam, undang-undang untuk mengikat tangan dan kaki manusia tidak ada nilainya. Kebanyakan dari sanksi  dalam peraturan kriminalitas pada masa sekarang, tidak dikenal dalam Islam. Oleh karena itu, dalam pemerintahan Islam tidak diperlukan penjara seperti  pemahaman dunia kini. Namun dengan melakukan tindakan tertentu yang diatur dalam fiqh Islam pada pembahasan hukuman dan denda. Tetapi ada juga kesalahan yang bisa dihukum dengan penjara misalnya orang kaya yang berhutang, dan tidak mau memenuhi utangnya. Orang yang seperti ini bisa dipenjarakan.

 

Pengadilan

Di tangan kaum muslimin, tanpa formalitas upacara yang berlebihan setiap orang bebas menyampaikan klaim atau gugatan masing-masing ke pengadilan. Maka, tidak heran jika menjadi pengadilan terbaik.    

Dalam Islam, seorang hakim wajib memenuhi berbagai persyaratan diantaranya laki-laki mukmin, adil, faqih dalam masalah pemutusan hukum tanpa upacara tambahan yang bertele-tele. Gugatan  dimulai untuk dinilai berdasarkan ketentuan-ketentuan Islam secara adil dalam memutuskan hukum. Oleh karena itu dalam pemerintahan Islam, kota-kota besar hanya memiliki satu orang hakim dan tidak ada persoalan pengadilan yang muncul seperti saat ini, sekedar menjadi pengekor Barat. 

 

Kebebasan

Agama Islam menghadiahkan kebebasan yang terbaik. Hal tersebut tidak dimiliki oleh dunia kini dengan kebudayaan yang nampak maju dan meneriakan hak asasi manusia. Islam membebaskan maunsia dari cengkraman perbudakan, dengan memberikan kebebasan berkeyakinan dan berpikir serta kebebasan menyampaikan pendapat. Hal ini dibebaskan selama tidak merusak dan meracuni moral dan kepentingan pubik. Dalam Islam, manusia memiliki hak-hak individu antara lain:

 

Kebebasan  Berniaga

Setiap orang dari anggota masyarakat bebas memilih berbagai jenis pekerjaan, keterampilan dan keahlian yang diminati. Dibebaskan juga memperjualbelikan setiap jenis barang dan tidak ada halangan seperti pajak, persyaratan, dan berbagai aturan yang mengikat. Namun jika barang yang diperjualbelikan tersebut termasuk barang haram, maka Islam tidak memberikan izin untuk itu. Perniagaan yang diharamkan antara lain: memproduksi dan menjual minuman keras, memproduksi peralatan judi dan lainnya. Selain itu, transaksi yang mengandung riba, tidak diperbolehkan karena merugikan masyarakat.

 

Kebebasan Bertani

Setiap muslim diperbolehkan menggunakan air, cahaya matahari, udara dan tanah dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan sendiri. Apa saja yang disukai dan dengan batasan yang dikehendaki dapat dipergunakan Sebagaimana dikatakan,”barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka tanah tersebut menjadi miliknya”.[16] Tetapi masalah menghidupkan tanah mati tidak menyebabkan  terambilnya hak orang lain, jika merugikan karena tidak bisa ditanami. Oleh karena itu dalam Islam, ‘reformasi tanah’ tidak dalam bentuk yang sekarang ada antara Timur dan Barat serta negara-negara dunia ketiga  yang tengah sibuk melakukannya.   

 

Kebebasan  Tinggal

Dalam Islam setiap orang dapat menggunakan tanah sesuai dengan keinginannya, apakah tanah tersebut akan dijadikan rumah, toko, pabrik, mesjid, Huseiniyah, sekolah, rumah sakit dan lainnya. Dengan syarat tidak merampas hak yang lain. Dalam Islam tidak ada satupun pajak yang berkaitan dengan segala pekerjaan bangunan. Pemerintahan Islam tidak boleh mengambil satu realpun dari tanah maupun bangunan.[17]

 

Kebebasan Berproduksi

Setiap muslim bebas untuk melakukan produksi yang diperlukan oleh masyarakat tanpa mensyaratkan jenis barang tertentu yang harus diproduksi kecuali yang diharamkan seperti memproduksi minuman keras, peralatan judi dan lain-lain.

Demikian juga setiap muslim bebas untuk memilih pekerjaan seperti berburu, nelayan, mengambil barang tambang maupun pekrjaan lainnya yang dihalalkan. Negara Islam tidak berhak untuk menghalangi seseorang untuk memilih pekerjaannya sendiri.

 

Kebebasan Bepergian

Setiap orang bebas untuk memilih tempat tinggal, hak untuk datang dan pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Islam juga membebaskan setiap orang untuk melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lainnya tanpa hambatan, warna kulit, bahasa, suku ras yang bukan merupakan keistimewaan seseorang. Maka, negara Islam akan mengeluarkan berbagai kartu identitas yang diperlukan seperti kartu tanda penduduk, pasport, izin tinggal dan izin keluar.  Namun sayang di beberapa negara Eropa tidak demikian, karena adanya aturan yang diada-adakan.     

 

Kebebasan dalam Aktivitas Sosial Dan Politik

Dalam Islam selain yang diharamkan, diperbolehkan untuk melakukan setiap aktivitas baik itu politik, sosial maupun budaya yang tidak melewati batasan syar’i. Hal ini merupakan hak setiap orang bukan hak kelompok tertentu saja. Namun tetap menjaga ketakwaan diperbolehkan melakukannya. Oleh karena itu, Islam mengharamkan memata-matai orang lain dan lembaga seperti ini tidak pernah ada karena mengganggu orang lain.  

Tetapi memata-matai dan mengetahui peran musuh Islam seperti dalam perbatasan negara daianggap perlu, bahkan menjadi begitu penting kehadirannya. Dengan adanya kebebasan beraktivitas dalam Islam, tiap orang maupun kelompok bebas berpendapat, menulis, membentuk partai, kelompok, mengumpulkan sumbangan, membentuk yayasan, surat kabar, majalah, radio, televisi dan lainnya.

 Masalah lainnya seperti kebebasan merawat jenazah, menguburkan dan memindahkan dari satu kota ke kota lainnya.

Pemerintah dan masyarakat hidup bebas, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang tidak perlu dan gaji pegawai tambahan untuk memantau perkembangan budaya dan pemikiran masyarakat.

 

Budaya

Salah satu kewajiban pemerintahan Islam adalah menyebarluaskan kebudayaan Islam dengan sebaik-baik dan seindah-indahnya. Maka dalam Islam, setiap muslim layak mendapatkan pengajaran, ilmu dan pengetahuan.

Dari sini muncul pertanyaan, mengapa Islam yang begitu menekankan mencari ilmu dan penyebaran pengetahuan, namun kondisi kaum muslimin begitu menyedihkan berada dalam keterbelakangan ? Dengan mengkaji sejarah lebih teliti, hal mendasar dari keterbelakangan kaum muslimin karena mereka meninggalkan ajaran Islam, melupakan kemandirian diri sendiri, tenggelam dalam duniawi dan kemunduran berpikir serta menanggalkan kebudayaan yang pernah cemerlang.

Sebelum terjadi penyimpangan pemikiran, seperti yang diakui para peneliti Barat bahwa kebudayan dan peradaban Islam pernah begitu cemerlang menghias cakrawala dunia dibandingkan negeri lainnya. Bahkan jika dibandingkan antara buku, perpustakaan, sekolah, dan pemikir ketika itu jauh melampaui kondisi saat ini. Jika kaum muslimin meninjau kembali  penyebaran kebudayaan  Islami, akan terlihat keagungan yang hilang. Maka sudah saatnya kaum muslimin dengan membangun sekolah, surat kabar, majalah, radio, televisi sinema, teater da juga menggunakan media baru seperti internet dengan tetap berada pada aturan Islam. Inilah saatnya menjauh dari segala kerusakan sosial dengan membersihkanya dan membangun pusat pendidikan, kebudayaan hingga tingkat budaya masyarakat berada pada tingkatan yang lebih baik dari yang ada sekarang ini.        

 

Kesehatan

Keselamatan, kesehatan dan kebersihan lingkungan sangat mendapatkan perhatian dalam Islam. Tiga jalan untuk menjaga hal tersebut antara lain :

1. Mengantisipasi penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan mengkonsumsi minuman keras, zina, homoseksual, lesbian, musik, perjudian dan pelacuran. Semua itu meyebabkan kerusakan sosial di masyarakat. Maka, Islam menolak dan mengharamkannya. Di sisi lain Islam mempunyai program  positif untuk kesehatan hidup seperti menekankan kebersihan, menggosok gigi, membersihkan badan, memotong rambut yang berlebihan, menikah dan  puasa. Selain itu, Islam juga menyampaikan tata cara hidup sehat seperti tata cara makan, minum dan lainnya.  

2. Pengobatan dengan cara memperkenalkan makanan maupun obat-obatan yang tersedia hingga penyakit yang sudah lama tidak terobati dapat teratasi. Pembahasan ini dapat dilihat dalam berbagai buku seperti kedokteran Nabi Saw, kedokteran para Imam as, Kedokteran as-Shadiq as, kedokteran Ridha as. Islampun mendukung kemajuan dalam bidang kedokteran.

3. Kontrol yang sangat ketat terhadap para dokter, bahwa mereka bertanggung jawab  menjalankan kewajiban kemanusiaan dalam sebuah aturan seperti dikatakan,“Jika dokter dalam memberikan resep, salah menuliskan obat maka dia harus bertanggung jawab atas tindakan tersebut”. Juga dikatakan bahwa, Tabib disebut sebagai tabib karena ia menunjukan tanpa bahaya ketika menyembuhkan penyakit. Bahkan ketika memberikan spirit kepada pasien dengan perkataan dan tindakannya yang baik, dan dengan teliti dan penuh perhatian menjalankan tugasnya.

Islam menjamin adanya kesehatan publik seperti yang telah dialami oleh nenek moyang kita. Namun sangat disayangkan pada kedokteran modern kini dengan disertai berbagai kecanggihan namun tetap tidak berdaya menanggung kesehatan publik. Saat ini hampir setiap rumah mengidap penyakit depresi. Jika suatu hari batas-batas utama kesehatan Islami diterapkan kembali di masyarakat dengan memanfaatkan pengalaman kedokteran lama dan kecanggihan kedokteran baru. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, seluruh anggota masyarakat bebas dari berbagai penyakit keluarga tanpa depresi, kecemasan jasmani dan rohani dalam  mencapai  kesuksesan.    

 

Membangun Keluarga

Pernikahan yang merupakan jawaban atas kecenderungan dan tarik-menarik natural antara pria dan wanita, dalam pandangan Islam sangat mendapatkan perhatian. Bahkan dikatakan,” dalam Islam, tidak ada yang lebih dicintai melebihi pernikahan”. Selain itu, beragam nasehat untuk membentuk keluarga. Bahkan pernikahan dianggap sebagai jalan melindungi setengah agama, seperti disebutkan “Barang siapa yang yang menikah, maka setengah agamanya telah terlindungi”. Usia pernikahan, dalam permulaan tingkatan ketika kebutuhan kecenderungan seksual dalam diri manusia mulai muncul. Usia pernikahan tidak menjadi halangan, oleh karena itu perempuan yang sudah mencapai usia sembilan tahun dan laki-laki telah memenuhi usia lima belas tahun bisa menikah. Namun, masalah keselarasan (kufu) kedua pihak harus dipertimbangkan. Dengan jalan ini, laki-laki dan perempuan muslim menjalankan hidup bersama hingga kecenderungan natural mereka terjamin serta terlindungi dari kerusakan dan kehancuran.

Dalam mencegah terjadinya kehidupan bebas antara laki-laki dan perempuan, Islam menkankan pentingnya hijab. Jelas dengan cara demikian, akan mereduksi sekecil-kecilnya kerusakan sosial hingga hubungan keluarga semakin solid dan aturan dalam keluarga dipenuhi cinta, kasih sayang dan persahabatan, kesucian, dan kebersamaan keluarga. Laki-laki dan perempuan dalam naungan iman dan keutamaan akhlak menjalankan kewajiban dalam dan luar keluarga. Istri, bertanggung jawab dalam keluarga dan memenuhi kebutuhan emosi dan perasaan suami. Laki-laki menanggung kebutuhan luar seperti persoalan ekonomi dan sosial. Kondisi yang tentram dan damai merupakan sarana yang   paling baik bagi  pertumbuhan generasi baru.

Pada dasarnya Islam  melarang memberikan beban kerja yang berat bagi wanita, namun istripun dilarang meninggalkan kewajiban fitri ibu dan pekerjaan rumah. Tetapi tentu saja, bukan berarti Islam menolak secara absolut wanita bekerja. Namun setiap pekerjaan yang tidak sesuai dengan sosok mulia perempuan dilarang bahkan diharamkan. Di luar itu Islam menekankan pentingnya mencari ilmu dan pengetahuan untuk perempuan, bahkan diharuskan.     

Namun tidak bisa ditutup-tutupi bahkan para pemikir Barat, psikoanalisis, sosiolog dunia meyakini bahwa jalan yang terbaik hidup selamat, mencapai ketentraman material dan spiritual, memiliki keturunan idaman. Kebahagiaan itu dapat dipenuhi dengan membangun keluarga, menentukan hak dan kewajiban bersama antara sumi dan istri.   

 

Islam dan Pengaturan Masyarakat

Dalam pembahasan yang lalu, telah dijelaskan bahwa Islam memiliki kekuatan terbaik  mengatur masyarakat. Masyarakat Islam memiliki keistimewaan yang tidak bisa dibandingkan dengan masyarakat modern. Dengan warna khusus dalam masyarakat Islam yang berasal dari keimanan pada Allah, tercipta keseimbangan pada setiap bidang. Sehingga, secara adil masyarakat menjalankan kehidupannya. Namun, berbagai rencana dan program rekayasa pemikiran manusia, memiliki keterbatasan dalam mewujudkan kondisi tersebut.

Dalam berbagai program Islam, aspek spiritualitas, kemanusiaan dan manifestasi kemuliaan manusia terwujud. Di sisi lain, berbagai keyakinan yang mencemaskan, lebih banyak berkisar pada berbagai persoalan kekinian. Sistem Islam, memicu pertumbuhan dan perkembangan seluruh bidang material maupun spiritual kehidupan masyarakat, seperti kepercayaan diri, hati nurani, cinta dan persahabatan. Kemajuan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi, pertanian, perluasan perdagangan dan pendapatan serta harta syar’i mengalami peningkatan. Kondisi demikian, terjadi dalam lingkungan yang bebas dari berbagai kezaliman, despotisme, berbagai ikatan dan syarat yang tidak perlu, persoalan ekonomi, kemiskinan dan berbagai kekurangan.         

Jika kaum muslimin melihat masa depan gemilang yang tengah dinantikan ini, dengan syarat menjalankan  al-Quran, menerapkan metode pemerintahan Rasulullah Saw dan Imam Ali as, persatuan ummat,  persaudaraan kaum muslimin, kebebasan, syura, dan berbagai aturan Islam diterapkan. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk turut andil secara serius dalam mewujudkan pemerintahan Islam dunia. Dengan harapan yang tinggi dan tujuan suci suci ini, kita memohon pertolongan pada Allah Swt.


[1] Qs. Al-Maidah : 2

[2] Qs. Al-hujurat : 13

[3] Dikutip dari buku,  Ayatullah Uzma Sayid Shadiq Syirazi ,As-Siyasah min Waqie al-Islam,1381 H 

[4] Tafsir Nur al-Tsaqalain Jilid 5 Hal 230, Wasail as-Syiah Jilid 13 hal 151.

[5] Mustadrak al-Wasail jilid 2 hal 390

[6] Ushul al-Kafi hal 604

[7] Mustadrak al-Wasail jilid 2 hal 492

[8] Furu al-Kafi jilid 1 hal 354 Tahdzib jilid 2 hal 59

[9] Wasail al-Syiah Kitab jihad bab 19 hadis 1

[10] Bihar al-Anwar jilid 32 hal 214 Ushul Kafi jilid 7 hal 354

[11] Beberapa tahun yang lalu, salah satu negara Barat, mengalami masalah gemuknya anggaran mencapai jutaan dollar. Namun setelah bersentuhan dengan pendangan Islam,melakukan efisiensi dan efektivitas anggaran dengan mengurangi jumlah pegawai negara. Akhirnya masalah tersebut bisa diselesaikan dangan baik. Jutaan dollar menjadi simpanan anggaran dan sebagian  digunakan untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

dalam Islam tidak ada cacat                        Cacat ada pada muslimin   

[12] Qs. Al-Anfal:60

[13] Qs. Al-Baqarah: 208

[14] Qs. al-Anfal:61

[15] Untuk menerapkan hukuman hudud dalam Islam harus memenuhi berbagai syarat, seperti dijalankannya semua hukum Islam, bukan hanya sebagian. Maka, hal tersebut bukan pekerjaan mudah. Selain itu, penerapan hudud dilakukan dengan meminimalkan syubhah,  seperti dalam kaidah, “tadra al-hudud dil syubhah”. 

[16]  ăä ÇÍی ÇŃÖ ăیĘĺ Ýĺی áĺ

[17] Salah seorang Mubaligh yang diundang memberikan ceramah di salah satu negara Barat, mengatakan bahwa setelah negara tersebut menerapkan berbagai program Islam, banyak persoalan yang dapat diselesaikan.  Walikota salah satu propinsi di negera tersebut yang juga seorang Insinyur sipil, secara rapi mengatur pembagian tanah berdasarkan kebutuhan mulai dari sekolah, perpustakaan, sarana wisata, sarana olahraga, rumah sakit, taman dan lainnya. Kemudian perencanaan tersebut diserahkan pada kontraktor untuk dibangun dan secara kredit dijual pada masyarakat dengan  keuntungan yang adil.